23 Desember 2014

Jumpa dan Jemari

Ada yang terlupa: bahasa pertama. Dengan niat awal membagikan pengalaman lebih pada khalayak yang lebih luas, beberapa bulan terakhir, tulisan dengan tema rupa-rupa selalu kutulis dalam Bahasa Inggris.

Tidakkah kamu lelah? Bukankah banyak kosakata yang tak bisa sepenuhnya diterjemahkan ke bahasa itu? 

Benar, dan tanpa terasa, akhirnya aku terbiasa. Terbiasa tidak mengacuhkan potongan-potongan yang meminta diekspresikan.

Berikut ini karya pendekku dalam bahasa pertama: Jumpa dan Jemari. Karya sebelumnya, Jika dan Jarak, bisa dibaca di sini. Selamat menikmati.



Jumpa 

Satu tahun sudah kami tidak bertemu. Orang-orang bilang, jarak bukan lagi hambatan yang besar di zaman serba terkoneksi ini. Ada Skype, Google Hangout, FaceTime, you name it! Kamu bisa berjumpa via suara dan melihat langsung orang yang kamu rindukan lintas benua.

Apakah dulu, para ilmuwan dan teknisi andal dunia berpikir akan tiba zaman seperti saat ini? Mungkin tidak.

Tetapi bagiku, pertemuan lewat lintasan kabel data itu tidak pernah mengurangi rasa rinduku. Seperti botol di bawah keran air yang terus terbuka, rasa ini tumpah ruah tak tertampung, apalagi berkurang. 

Satu tahun berlalu, setelah satu tahun-satu tahun sebelumnya berlalu. Aku melihatmu meniup lilin kesekian kalinya di layar komputer. Tak pernah ada kado berbentuk fisik yang kusiapkan, karena mengirim barang dari sini sangat mahal. Untung kamu mengerti. Padahal ada gelang cantik yang kulihat saat pameran beberapa hari lalu, yang kukira akan sangat cocok untukmu.

Suatu waktu, kamu memperlihatkan keahlianmu memasak ayam panggang kesukaanku. Aku bisa mendengarkan suaramu memotong-motong ayam, bawang, cabai, lintas benua. Kamu sibuk di dapur apartemenmu sendiri, sementara aku melihatmu lewat kamera kecil, memperhatikan gerak-gerikmu yang lincah sambil bersiul-siul. Kamu sangat cantik.

Tak jarang, jiwamu yang terlihat kuat menjadi rapuh. Saat dirimu baru kembali dari kampus dan bercerita bagaimana risetmu tidak ada kemajuan, atau kamu dimarahi ‘bos besar’ karena melakukan sesuatu yang dianggapnya tidak tepat; saat itu rasanya aku ingin memelukmu erat dan menepuk pundakmu dengan ritme yang teratur, menenangkanmu.

Hari ini sudah kusiapkan dengan baik. Satu buket bunga warna warni, dan poster besar untuk menyambut kedatanganmu. Sudah dari jam setengah empat pagi aku terjaga, karena tidak sabar menjawab pertanyaan-pertanyaan di kepalaku. Apakah kamu masih berjalan dengan langkah-langkah kecil terburu-buru? Apakah kamu masih menggigit bibirmu kalau kamu tersipu malu? Atau, masihkah kamu memainkan tanganmu saat mendengarkan orang berbicara?

Di perjumpaan kali ini, aku akan memintamu tinggal dan tak pergi lagi. Karena mortarboard-mu akan coba kutawar dengan cincin yang kupersiapkan bulanan yang lalu, saat kau mengabariku, “Aku pulang tahun ini. Tak sabar ingin berjumpa langsung denganmu!”

Semoga saja tawaran ini lebih berharga dari tawaran perusahaan asing yang ingin membuatmu kembali ke sana. Semoga.

Jemari 

Jemarinya lentik. Panjang dan menari. Tak pernah aku melihat seseorang menari seluwes itu. Jika orang lain menari mengikuti irama, dia seolah-olah berpadu dengan irama itu sendiri.

Saat pagelaran berakhir, bulan purnama sudah berdiri gagah di atas candi. Bulan yang awalnya mengintip malu-malu, saat wanita itu baru saja keluar dari balik panggung dan memulai menyihir penonton.

Aku ingin memiliki jemari seperti itu. Bisakah?

Ternyata bisa. Mungkin aku bukan penari terluwes yang pernah ada, tetapi satu-dua panggung sudah kujajaki, dan penonton barisan depan selalu bertepuk tangan riuh.

Hanya saja, tak peduli seberapa lama aku berlatih, aku tak pernah bisa menyamai Si Penari. Selalu ada yang kurang, meskipun guru tariku selalu berkata, “Iki wis apik kok, Nduk (Ini sudah bagus, Nak).”

Karena itulah aku duduk lagi di kursi ini, setelah kemarin susah-susah membeli tiket yang harganya cukup menguras tabunganku. “Lha, yo pantes tho, iku kan wisata untuk turis asing,” begitu komentar Ibu.

Perlahan, lampu pentas meredup, pagelaran akan segera dimulai. Saat Si Penari keluar, gerakannya membuat seluruh penonton terpaku padanya. Semua orang menahan napas, memperhatikan apa yang akan dia lakukan berikutnya.

Dan saat pagelaran selesai, semua orang bergegas meninggalkan tempat karena malam yang semakin larut. Sementara itu, aku terduduk diam. Aku masih belum menemukan rahasia di balik luwes jemarinya. Haruskah aku membeli tiket lagi dan datang esok hari?

3 komentar: