09 Desember 2014

Untuk Ibu Titan di Amerika

Ada kejutan luar biasa yang aku terima hari Sabtu, dari Mbak Arina, seorang Pengajar Muda. Beliau memberikan 'hadiah' yang belum pernah aku terima sebelumnya.

Foto-foto dan surat-surat dari adik-adik di Muara Enim!

Ceritanya panjang sekali, sebenarnya. Awal mulanya sepupuku, Mbak Sista, mengirimkan surel tentang permintaan dari Mbak Arina agar teman-teman yang sedang menempuh studi di luar negeri bersedia mengirimkan kartu pos atau sepotong surat untuk dibagikan pada adik-adik di Muara Enim, di mana Mbak Arina ditempatkan.

Di manakah Muara Enim?
Karena hobiku memang mengirim (dan lebih senang lagi, menerima, hehe) kartu pos, kupikir, "Mengapa tidak?" Akhirnya kukirim beberapa foto yang kuambil di berbagai tempat selama aku belajar di Amerika Serikat. Karena aku ingin mengenalkan empat musim kepada adik-adik di sana, seingatku, aku mengirimkan beberapa foto musim dingin dan musim gugur.

Beberapa minggu lalu, Mbak Arina mengontakku via surel. Seingatku, beliau sudah selesai dan kembali ke Pulau Jawa. Benar saja, Mbak Arina ingin mengirimkinkan balasan surat adik-adik yang mereka terima kurang lebih 8 bulan yang lalu.

Gayung bersambut, dan surat dari Mbak Arina tiba. Awalnya aku tidak berharap apa-apa. Kupikir, membaca surat-surat ini tentu saja akan menyenangkan, tetapi aku tidak menyangka akan merasa ditampar sekeras ini.

Adik-adik ini luar biasa sekali, kawan. Dengan segala keterbatasan fasilitas sekolah mereka, mereka masih bertekad untuk berjuang keras, bahkan untuk melanjutkan ke jenjang SMP, sesuatu yang mungkin taken for granted untuk kebanyakan dari kita.



Assalamualaikum Wr. Wb. Perkenalkan nama saya Yurdani Anggara. Saya biasanya dipanggil 'Angga'. Saya berasal dari Indonesia. Saya beragama Islam dan saya masih kelas VI. Sedikit lagi saya akan menjalani ujian. Kepada Ibu Titan. Saya mohon doa agar saya lulus ujian dan bisa menjadi pintar seperti Ibu Titan. Kalau di tempat kami ini, pemandangannya sangat indah. Ada bukit-bukitnya yang penuh dengan pohon-pohonan. Dan di desa kami ini tidak ada hewan buas. Yang ada di sini burung, ikan, keli/ lele. Kami akan tetap semangat!!!

Ada banyak juga surat lainnya, dan rasanya miris sekali ketika ada frase, "Aku ingin ke tempat Ibu Titan." Semoga kalian dapat menyusul ya, Adik-adik!




Mbak Arina bercerita di suratnya tentang keadaan di sana. Semoga Mbak Arina tidak apa-apa suratnya saya tulis ulang di sini, hehe.

...

Di sekolah kami, Titan, meskipun ada anak yang belum dapat calistung, dapat dipastikan pasti naik kelas. Dari cerita yang saya dengar, terakhir kejadian tidak dapat menaikkan kelas anak karena belum bisa calistung adalah 6 tahun lalu. Orang tua anak tersebut datang mengancam, namun dengan negosiasi anak tersebut tahun depan pasti naik kelas apapun yang terjadi (meskipun masih belum dapat calistung), konflik dapat diselesaikan. Anak itu sekarang sudah lulus, tinggal di Kabupaten Lahat (sekitar 3 jam dari desa kami di Kabupaten Muara Enim) dan bersekolah di sana di SMP 10 Lahat.


Sehingga saat saya mengajar di sana (50% waktu mengajar saya untuk mengajar kelas 6), saya tidak banyak berharap anak-anak kelas 6 bisa lulus dengan nilai baik, bisa melanjutkan sekolah di sekolah unggulan. Saya hanya mengharapkan: anak-anak bisa mengisi identitas di LJK dengan baik tanpa bantuan guru; anak anak menjawab soal semampunya, dan jujur tanpa mencontek antar murid atau bantuan dari guru; dan anak-anak bisa lulus dari SD dan melanjutkan sekolah baik di SMP, pesantren, atau MTS.


Betapa terharu saya saat salah seorang guru perempuan yang dapat dibilang sangat jujur, lugu, tidak berani berbuat macam-macam berkata pada saya saat perpisahan kelas 6, bahwa untuk pertama kalinya selama beliau mengajar di SD kami (beliau mengajar dari tahun 2008), anak-anak bisa lulus dari SD tanpa ada bantuan dari guru dan saling mencontek antar murid. Saya adalah pribadi yang sulit terharu, sesungguhnya. Namun, saat saya mengajar mereka, bahkan saat mereka paham dan dapat menjawab bahwa semua angka dikali dengan nol adalah nol, tanpa sadar saya tersenyum diiringin dengan air mata yang saya tahan di pelupuk mata.


Oh ya, Titan pasti juga sudah merasakan betapa berbedanya kondisi Indonesia dan negara-negara di Benua Amerika dan Eropa. Baik infrastruktur, tatanan kota, hingga sistem pendidikan, ekonomi, dan sosial budayanya. Saya memang belum pernah ke luar negeri. Tapi saat saya berada di desa, saya merasakan dengan nyata perbedaan keadaan daerah pelosok dengan daerah 'besar' seperti Jogja, Jakarta, dan kota besar lainya. Kami sama-sama di Indonesia. Namun kami merasakan adanya gap waktu meskipun berada di negara yang sama. Kami belum berlistrik. Kami belum bersinyal. Jalanan kami licin kal hujan karena masih berupa tanah liat. Transportasi kami sulit. Banyak masyarakat yang belum dapat berbahasa Indonesia dengan baik. Rasanya kami masih berada pada zaman tahun 1980-an, sedangkan yang berada di kota sana sudah merasakan waktu selayaknya tahun 2014. Padahal kami dan mereka berada di negara yang sama, Indonesia.

Karena saya lahir dan besar di kota, saya kurang ngeh dengan hal-hal kecil yang sebenarnya ber-impact besar untuk anak-anak. Misalnya, saat saya pernah membawa anak-anak ke kabupaten, kami menginap di mess salah salah satu perusahaan besar di Indonesia. Anak-anak tidak ingin mandi, padahal cuaca saat itu sangat panas dan saya lihat mereka tampak berkeringat. Salah satu anak berkata pada saya bahwa mereka takut mandi karena tidak tahu bagaimana cara mandi di kamar mandi tersebut. Ya Allah, saya lupa. Anak-anak kami mandi di tempat seadanya. Kadang-kadang jika air sedang surut, mereka mandi di sumber mata air. Tak pernah mereka melihat shower, kloset duduk, dan wastafel. Setelah saya ajarkan bagaimana mandi dengan alat-alat tersebut, dalam semalam itu mereka 3 kali mandi. Alasannya: panas, ingin mencoba air hangat, dan di dusun tidak ada alat-alat mandi seperti itu.

Yah, begitulah sedikit cerita dari saya, Titan. Ini saja menurut saya masih belum ada apa-apanya dibandingkan keadaan teman-teman saya yang ditempatkan di daerah pelosok pesisir pantai Maluku Tenggara Barat, Sangihe, dan Fak-fak, Papua Barat. Semoga sedikit menggambarkan bagaimana keadaan kami dulu di desa. Dengan berkorespondensi dengan kakak-kakak yang sudah sukses di bidangnya masing-masing, anak-anak sedikit banyak mempunyai gambaran tentang dunia, macam-macam profesi, sekaligus dapat memotivasi mereka untuk berani bermimpi dan meraih cita-citanya. Plus melatih anak-anak untuk menulis, menggunakana Bahasa Indonesia yang baik dan benar, serta menuangkan apa yang ada di dalam benaknya saat mereka menulis surat balasan untuk kakak-kakak sahabat pena mereka.

...

Jadi, bagaimana, teman-teman? Kuliah yang terasa berat, atau sekolah yang rasanya susah setengah mati, belum ada apa-apanya dibandingkan dengan adik-adik kita ini. Setidaknya, kita terkoneksi dengan dunia dan tahu bahwa ada banyak kesempatan, cita-cita, dan mimpi yang kita raih. Karena keterbatasan fasilitas dan informasi, adik-adik ini hanya tahu dunia yang mereka lihat sehari-hari, dan minim standard tinggi yang ingin dikejar.

Bagi teman-teman yang tertarik untuk korespondensi dengan adik-adik di sana, aku punya alamat Pengajar Muda yang sekarang ditugaskan di sana, feel free to drop me an e-mail to ask for it.

Ada dua puisi lainnya dari adik-adik yang sekarang sudah melanjutkan ke SMP.



Puisi-puisi ini mengingatkanku pada zaman SD dulu, ketika hanya ada dua kata di kepalaku: main dan bimbel. Aku sering berpura-pura bermain sebagai guru, dengan siswa imajiner yang kuajar. Hal favoritku adalah membuat buku absen dan menulis nama-nama siswa imajiner di situ. Pasti ada satu orang yang hobi membolos, atau sering sakit, karena aku pasti menulis huruf A atau S di jajaran nama siswa imajiner itu.

Sejak kelas 4 SD, aku masuk ke dalam mesin pencetak bernama bimbel. Lumayan sih, try out-ku selalu masuk 10 besar, dan aku punya teman-teman baru dari SD yang berbeda di situ. Bahkan aku sering dapat mug atau kaos gratis karena juara satu try out. Tetapi karena itu juga, aku jadi jarang main sekolah imajiner. Berpura-pura sebagai guru dan murid sekaligus. Kupikir saat itu, aku sudah tua dan tidak cocok lagi main guru-guruan. Alasan yang lain adalah, karena kakakku selalu menertawakan buku absen buatanku dan pilihan nama murid imajinerku.

Benar sekali, dulu aku pernah bermimpi untuk jadi guru. Pernah juga jadi dokter. Bahkan detektif. Kini, sebagai mahasiswi teknik, haruskah aku menjadi engineer? Aku pun masih belum tahu jawabannya.

Untuk semuanya, semoga kita diberi kekuatan sebagai generasi baru untuk memajukan peradaban Indonesia di masa depan, dan membuatnya jauh lebih baik dari sekarang. Amin. Tunggu saja adik-adik, Ibu Titan di Amerika akan melakukan sesuatu yang besar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar