31 Maret 2014

Rainy Boston and Spring Break

tak ada yang lebih tabah, dari hujan bulan Juni, dirahasiakannya rintik rindunya, kepada pohon berbunga itu 
tak ada yang lebih bijak, dari hujan bulan Juni, dihapusnya jejak-jejak kakinya, yang ragu-ragu di jalan itu 
tak ada yang lebih arif, dari hujan bulan Juni, dibiarkannya yang tak terucapkan, diserap akar pohon bunga itu 
Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni
Kalau Pak Sapardi membolehkan, akan kuganti bulan Juni menjadi bulan April. Musim semi sudah resmi dimulai sejak tanggal 20 Maret lalu. Meskipun begitu, lima hari yang lalu, salju kecil-kecil masih turun, dan cuaca masih dingin. Tiga hari terakhir, cuaca berubah menjadi hujan terus menerus, siang malam, yang mengingatkanku pada rumah.

Hujan dari bus nomor satu.


26 Maret 2014

Food For Thought: A Poverty-Free World?

Poverty does not belong in civilized human society. Its proper place is in a museum. That's where it will be. When schoolchildren go with their teachers and tour the poverty museums, they will be horrified to see the misery and indignity of human beings. They will blame their forefathers for tolerating this inhumane condition and for allowing it to continue in such a large segment of the population until the early part of the twenty-first century. -Muhammad Yunus

Muhammad Yunus, the founder of Grameen Bank, surely works hard towards his ultimate goal: museumizing poverty. Yet, the process seems rather slow. Why, and what should we do to provide quantum leap to this noble goal?


16 Maret 2014

Why Do You Go to College?

As what the card says, check whymit.tumblr.com.

I have been blogging about general stuff, instead of specific events I participate/ come. Not because I do not have time to go out and explore the world, but I have been thinking much lately (and studying, too, haha). I have taken major steps this semester, and hopefully they will be right decisions to do.

05 Maret 2014

Economics-literate?

"Economic literacy is crucial because it is a measure of whether people understand the forces that significantly affect the quality of their lives." -Gary H. Stern

Dulu, guru SD-ku, Pak Janu, pernah bilang, kalau punya background matematika yang kuat itu perlu, tak peduli cita-citamu jadi apa. Seorang siswa yang pintar, kata beliau, bisa dilihat dari kemampuan matematikanya, karena matematika membentuk logika, nalar berpikir, dan reasoning. Karena itu, beliau mewanti-wanti agar kami semua belajar matematika benar-benar.

Apa mungkin karena itu aku mengabaikan pelajaran lain dan fokus dengan matematika saat di bangku sekolah dulu? Haha. Ini jangan dicontoh, ya.

Saat bersekolah di UWC dulu, aku sempat mengeluh karena kurikulum IB mengharuskanku untuk mengambil mata pelajaran ilmu sosial. Akhirnya kuputuskan untuk mengambil ekonomi. Mengapa? Karena setidaknya masih ada angka-angkanya, haha.

Ternyata tidak juga. Oleh kedua guruku di sana, Eyad dan Ravi, aku diajarkan bagaimana menganalisis pasar, harga, dan kebijakan pemerintah. Ada 'gaya tak terlihat' yang menjaga keseimbangan produksi barang-barang dan harga-harga, ada pula intervensi pemerintah, atau para spekulan. Dunia yang rumit dan tidak bisa dijabarkan secara sederhana. Karena itu, aku sempat berpikir untuk mengambil jurusan ekonomi di universitas.

Jika aku adalah guru seperti Pak Janu, hal yang akan kukatakan adalah, "Matematika dan bahasa itu harus, sementara ekonomi itu perlu."

Mengapa?

Karena banyak orang yang masih tidak mengerti bagaimana inflasi itu sebenarnya, atau bagaimana memutuskan untuk investasi atau menabung. Masih banyak juga orang yang memaki-maki kebijakan pemerintah, tanpa mereka ketahui bahwa pemerintah melakukan kebijakan tertentu untuk kebaikan khalayak banyak juga.

Mengerti model kurva supply-demand mungkin merupakan hal yang sepele, tetapi banyak hal yang bisa orang-orang petik dari berita sehari-hari yang mereka dengar. Orang-orang mengasumsikan hubungan kausalitas bahwa bencana di daerah A bisa membuat harga beras naik, atau nilai tukar rupiah yang melemah merupakan pertanda ekonomi yang memburuk, tetapi tidak mengerti detailnya bagaimana.

Konsep uang yang dianggap rigid bagi banyak orang pun sebenarnya fluid.

Sekian banyak alasan itu akhirnya aku sadari setelah mengambil beberapa kelas pengantar ekonomi. Bahkan, semester ini aku mengambil dua mata kuliah ekonomi: Makroekonomi dan Ekonomi & Kebijakan Energi.

Kelas Makroekonomiku dibuka bukan dengan model Keynes atau neo-Keynesian yang membosankan semester ini. Kami langsung mempelajari mengapa krisis yang disebabkan subprime mortgage tahun 2008 dirasakan jauh lebih buruk dibandingkan Great Depression.

Kelas Ekonomi & Kebijakan Energiku apalagi. Prof. Knittel adalah dosen yang luar biasa! Beliau sering memberi masukan untuk kebijakan energi Amerika Serikat (diundang oleh US Congress -semacam DPR/MPR di Amerika Serikat). Komentar dan pemikiran beliau memang kontroversial, contohnya isu yang hangat saat ini: beliau merasa bahwa Keystone XL Pipeline memang harus dibangun.

Selain itu, kelas ini juga jauh dari kata standard. Tidak ada normal problem sets setiap minggunya, tetapi ada dua game yang setiap mahasiswa di kelas ini harus ikut serta sebagai bagian dari nilai.

Game pertama, yang sedang kami mainkan selama tiga minggu ini, adalah OPEC game. Intinya, kami bermain sebagai negara-negara di OPEC, dan kami harus menentukan total produksi dengan bersikap sebagai monopolist. Profit yang kita dapatkan pada akhir permainan, menentukan nilai kami. Karena itu, semua mahasiswa memiliki insentif untuk bermain secara serius (baca: semua mahasiswa bermain mati-matian demi nilai A). Layaknya OPEC, kami dianjurkan untuk melakukan kolusi, dan saling tikam. Oh, rasanya jadi ingat Liar Game. Salah satu drama yang bisa membuatmu berpikir tentang Game Theory.

Salah satu best J-Dorama yang pernah kutonton, selain Bloody Monday.

Di sisi lain, mengerti latar belakang ekonomi, dan motif seseorang memutuskan sesuatu juga merupakan ilmu yang berharga untuk bertahan hidup -secara umum.

Seperti kata Stern yang kalimatnya kukutip di awal tulisan ini, tak ada alasan bagi kita untuk tidak mencoba mengerti 'gaya-gaya tak terlihat' yang mempengaruhi kualitas hidup kita.

Menurutmu, apa ilmu paling berharga yang orang-orang harus pelajari untuk hidup?

02 Maret 2014

Musik + Waktu

Musics. Musik. 音乐. 音楽。Música. الموسيقى. מוזיק. 

Satu grup a capella berseragam warna warni bernyanyi di atas stage di Auditorium Kresge. Kursi penonton penuh sesak, mereka menunggu setengah jam lamanya sebelum pintu auditorium dibuka. Konser malam ini, hanya pita suara yang divibrasikan, tak ada alat musik lainnya digetarkan.