07 Januari 2015

Jenazah dan Jelaga

Ada yang terlupa: bahasa pertama. Dengan niat awal membagikan pengalaman lebih pada khalayak yang lebih luas, beberapa bulan terakhir, tulisan dengan tema rupa-rupa selalu kutulis dalam Bahasa Inggris. 

Tidakkah kamu lelah? Bukankah banyak kosakata yang tak bisa sepenuhnya diterjemahkan ke bahasa itu? 

Benar, dan tanpa terasa, akhirnya aku terbiasa. Terbiasa tidak mengacuhkan potongan-potongan yang meminta diekspresikan.

Berikut ini karya pendekku dalam bahasa pertama: Jenazah dan Jelaga. Karya sebelumnya, Jika dan Jarak, juga Jumpa dan Jemari, juga bisa dibaca. Selamat menikmati.

Jenazah

Sebuah pesan tiba di Facebook message-ku. Aku hanya melirik sedikit, ternyata datangnya dari teman SMP-ku. Kuabaikan saja, karena masih ada tiga soal lagi yang harus kuselesaikan. Sebentar lagi ujian akhir tingkat SMA; meskipun aku sudah diterima di universitas yang kuinginkan, tetapi penerimaan itu bersyarat dan bergantung pada hasil ujian akhirku. Tetapi, jendela pesanku tidak berhenti berbunyi. Mungkin ada yang penting.

"Titan, kamu masih ingat Y? Teman SMP kita dulu? Kabarnya dia dirawat di rumah sakit. Besok aku menjenguknya. Apa kau ingin menitipkan pesan?"

Tentu saja, pikirku. Kuketik cepat, "Ya, salam untuknya, dan aku juga mendoakan semoga dia cepat sembuh dan sakitnya menjadi penggugur dosanya."

"Tentu saja, akan kusampaikan," begitu balasan singkat temanku.

Aku jadi termenung sendiri. Aku pertama kali bertemu Y saat perlombaan matematika SD. Dia seseorang yang luar biasa brilian, dan aku sering sekali punya kelas bimbingan belajar yang sama dengannya. Nilai try out kami selalu beda tipis, kadang nilaiku sedikit lebih besar darinya, tapi tak jarang pula sebaliknya. 

Kemudian, kami masuk SMP yang sama, dan kebetulan sekelas di kelas 7. Rivalitas kami tidak berhenti di bangku SD, tetapi juga terbawa ke bangku SMP. Aku ingat, dia memiliki kepribadian yang supel dan mempunyai banyak teman. Dia juga sempat menjalin hubungan dengan gadis kelas sebelah. Aku masih ingat, saat gadis itu lewat di depan kelas kami tiap jam istirahat, seisi kelas kami akan menggodanya, "Y, itu lihat siapa yang lewat. Mengapa tidak kau sapa lebih dulu?"

Ketika bangku SMP usai, aku memutuskan untuk melanjutkan ke sebuah SMA di Bandung, dan dia ke SMK di kota kelahiran kami. Dunia kecil sekali, karena ternyata ibuku menjadi guru BK-nya di SMK. Kadang ibuku bercerita padaku, "Titan, tadi ibu mengajar di kelasnya Y. Dia teman SMP-mu bukan?"

Selain dari ibuku, aku jarang mendengar kabar tentangnya. Sekali dua kali bisa kulihat post-nya di Facebook. Hanya itu, hingga aku mendengar kabar dari temanku lewat Facebook message.

Beberapa hari setelahnya, ibuku mengirim pesan singkat, "Innalillahi wa inna ilaihi raji'un, telah berpulang teman SMP-mu, Tan. Tolong didoakan, semoga amal ibadahnya diterima di sisi-Nya, ya, Nak. Kemarin ibu dan guru-guru lainnya sempat menjenguk dia. Dia titip salam untukmu, dan berterima kasih untuk doa darimu. Dia bilang semoga kamu sukses terus di negeri orang, Nak. Ibu akan melayat hari ini, jenazahnya dikebumikan sore ini waktu Indonesia." 

Saat itu, aku benar-benar terkejut. Bayangannya terasa samar-samar, dan aku tidak mampu mengingat kapan terakhir kali kami berinteraksi. Di Facebook-kah? Di Perpisahan SMP-kah? Dia masih muda sekali, dan orang yang sangat brilian...

Memang umur seseorang tak ada yang tahu. Semoga kamu berada di tempat terbaik di sisi-Nya. Aku ingin berterima kasih untuk segala memori yang kita bagi bersama, sebagai teman dan rival.

Selamat jalan. Sorry for my really late tribute.

Jelaga

Simbah putri (nenek, red.) mengipas-ngipas kompor di hadapannya. Bukan kompor LPG, tetapi kayu bakar, lebih tepatnya. Sesekali beliau akan memasukkan kayu bakar baru dari tumpukan kayu bakar yang simbah kakung (kakek, red.) telah kumpulkan dari sekitar. Tak ada kayu bakar, serabut kelapa atau bambu pun jadi. Simbah putri tak berhenti mengipas-ngipas, memastikan nyala apinya tetap besar dan membara, untuk menanak nasi porsi seluruh keluarga besar.

Ini adalah Hari Idul Fitri kesekian dalam hidupku. Aku masih SD, dan mudik selalu menyenangkan. Kalau jalanan tidak terlalu macet dan aku tiba sehari sebelum Hari Lebaran, aku akan membantu Budheku (uak, red.) menganyam ketupat dari daun palem. Beliau juga senang mengajariku membuat berbagai bentuk ketupat; mulai dari kubus, diamond, hingga katak. Jika ada sisa dedaunan, beliau akan membuatkanku burung-burungan untuk dimainkan bersama sepupu-sepupuku.


Kadang juga, aku dan kakaku berinisiatif untuk membuat jagung bakar, karena memang jauh lebih mudah dengan kompor milik simbah. Walaupun hasilnya kadang terlalu gosong atau setengah matang, dan ibuku mengomel karena baju lebaranku kotor kena jelaga dan rambutku bau asap, aku benar-benar menikmatinya. 

Lebaran bukan hanya soal bermaaf-maafan bagiku yang dulu masih kecil, tetapi juga bermain sepuasnya dengan sepupu, makan kue kering yang enak-enak, dan tentu saja, menerima angpau dari uak, paman, atau tante.

Hingga gempa bumi besar melanda daerah Yogyakarta dan sekitarnya di tahun 2006. Aku ingat, pertama kali mendengar kabar ini aku sedang berada di taman bacaan, meminjam komik. Aku berpapasan dengan kakakku, "Tan, katanya ada gempa di Yogya. Ayo kita cepat pulang supaya tahu lebih banyak beritanya."

Saat pulang ke rumah, aku menemukan ibuku menangis sambil menatap layar kaca. Sementara yang ada di benakku hanyalah, "Simbah dan keluarga besar tidak apa-apa, 'kan? Rumah simbah tidak roboh, 'kan? Lebaran tahun ini masih bisa ke sana, 'kan?"

Tiga hari setelah itu, ibu dan bapak pergi ke Yogya, untuk memastikan kabar simbah dan keluarga besar. Karena infrastruktur yang rusak berat, orangtuaku tidak mendapat kabar yang memuaskan tentang mereka lewat telepon.

Empat hari setelah itu, orangtuaku pulang. Membawa kabar bahwa rumah simbah rusak berat dan simbah harus mengungsi ke rumah paman di Jawa Timur. Untunglah beliau tidak apa-apa, begitu pikirku. Ibuku juga memperlihatkan foto-foto rumah simbah. Genteng yang copot, tembok yang retak dan hancur, serta kayu yang berjatuhan.

Bisa juga kulihat dengan jelas, kompor kayu bakar simbah yang berjelaga kini tertutup debu reruntuhan rumah. Saat itu aku tahu, Lebaranku tak akan pernah sama lagi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar