14 Januari 2015

Jumat dan Jembatan

Ada yang terlupa: bahasa pertama. Dengan niat awal membagikan pengalaman lebih pada khalayak yang lebih luas, beberapa bulan terakhir, tulisan dengan tema rupa-rupa selalu kutulis dalam Bahasa Inggris.

Tidakkah kamu lelah? Bukankah banyak kosakata yang tak bisa sepenuhnya diterjemahkan ke bahasa itu? 

Benar, dan tanpa terasa, akhirnya aku terbiasa. Terbiasa tidak mengacuhkan potongan-potongan yang meminta diekspresikan.

Berikut ini karya pendekku dalam bahasa pertama: Jumat dan Jembatan. Karya sebelumnya, Jika dan Jarak, Jumpa dan Jemari, serta Jenazah dan Jelaga, juga bisa dibaca. Selamat menikmati.

Jumat

Jumat adalah hari yang paling kutunggu, tak hanya olehku, tetapi juga oleh teman-temanku. Lonceng yang dibunyikan empat kali pada pukul sebelas mengantarkan kami semua pada akhir minggu. Beberapa orang langsung pulang, atau langsung naik angkot Cimahi-St. Hall menuju Bandung untuk menonton film di 21 Bandung Indah Plaza. Yang lelaki, banyak juga memilih untuk pulang setelah menunaikan Jumatan di aula sekolah kami.

Aku dan teman-temanku? 

Ada sebuah toko alat tulis di sebelah sekolah kami. Namanya Toko Belokan (Tobel). Di situlah semua siswa siswi dari SMP-ku membeli suling bambu untuk pelajaran Seni Musik, kanvas untuk pelajaran Seni Rupa, atau penghapus yang entah mengapa selalu hilang. Tak hanya itu, FruitTea, Teh Botol, Tebs, dan minuman bersoda lainnya juga dijual di sini.

Kami memanggil pasangan bapak ibu yang menjaga toko ini, Pak Tobel dan Bu Tobel.

Pak Tobel dan Bu Tobel menyediakan kursi bambu di samping tokonya. Kami sering sekali duduk-duduk, nongkrong-nongkrong di sana. Mengobrol tentang apa saja. Terutama saat hari Jumat.

"Hei, bakiak urang di mana lah? Asa tadi masih keneh di dieu. (Hei, bakiakku di mana? Perasaan, tadi masih ada di sini.)"

"Lain urang, ih. Si Uya tah nu make. (Bukan aku, si Uya yang memakainya.)"

"Ih, ini mah urang ngambil ti mushola pas jam istirahat. (Ih, kalau yang ini aku ambil dari mushola waktu jam istirahat.)"

"Tah, nu si Yacob we. Si Yacob kan teu Jumatan. (Tuh, yang dipakai si Yacob saja. Si Yacob tidak Jumatan.)"

Sementara yang lelaki Muslim melaksanakan sholat Jumat, aku dan yang lainnya akan siap-siap. Mengganti baju kami dari batik-rok biru, menjadi coklat muda-coklat tua.

Jumat sore kami isi dengan Pramuka. Panas-panasan, lari-lari, baris-berbaris. Saat kami diperbolehkan untuk beristirahat, semuanya akan lari ke Tobel.

Satu-satunya foto kami di depan Tobel yang aku punya. Sudah diedit.
"Pak Tobel, Xtreme satu. (Xtreme: salah satu varian rasa dari FruitTea)"

"Bu Tobel, mau Sprite-nya satu. Yang bayar si Uya, ya. Kemarin dia ulang tahun."

"Apa-apaan, ih?" (Akhirnya Uya tetap mengeluarkan dua lembar seribuan tambahan.)

Hingga matahari tergelincir. Sudah usaikah Jumat kami? Belum. Perhentian selanjutnya adalah Baso Isan, di belokan Jalan Lurah, untuk makan malam kami. Aku bahkan hafal apa yang mereka pesan. Ainun senang mie bakso yamin kuah, dia pasti menambahkan sambal banyak-banyak hingga matanya berair. Yang lainnya rata-rata suka mie bakso yamin kuah juga, tetapi dengan sambal secukupnya. Anita, temanku yang lain, tidak suka makanan yang terlalu pedas. Hanya sekali-kali dia menambahkan sambal ke mangkok baksonya. Anita bahkan selalu 'membersihkan' keripik singkong pedas dari biji cabai rawit saat memakannya, kebiasaan yang membuatnya sering ditertawakan.

Setelah itu, barulah kami berpencar. Kadang kami bertemu lagi saat akhir minggu untuk kerja kelompok, atau jika tidak, kami bertemu lagi hari Senin pagi. Saat upacara bendera, kami akan cekikikan di barisan belakang saat bertukar cerita baru.

Jembatan

Setiap kali aku bersepeda melewati jembatan itu, akan aku temukan seseorang berteriak, "Tolong dibeli, majalahnya! Tiap majalah yang terbeli akan disumbangkan untuk orang-orang homeless! Tolong dibeli, majalahnya!" Tetapi, aku hanya memicingkan mataku sedikit, kemudian mengayuh sepedaku lebih kencang.

Kadang, orang tersebut berada di luar toko buku favoritku, dan masih berteriak-teriak akan hal yang sama. Aku hanya berjalan lebih cepat, dan masuk ke toko buku tanpa melirik sedikitpun. 

Suatu kali, orang itu mengucapkan, "Assalamualaikum," yang membuatku terkejut. Hampir aku memalingkan muka, tetapi kepalaku tertahan. Kujawab salamnya pendek, "Waalaikumsalam," lalu cepat-cepat pergi.

Ada aturan tidak tertulis yang selalu kuingat. Saat kuliah, jangan melihat langsung pada mata professornya, kalau kamu tidak ingin ditanya. Saat di jalan, jangan menatap mata mereka yang meminta donasi, kalau tidak kamu akan didekati dan dimintai. Dua hal ini telah menyelamatkanku berkali-kali, dan kini tanpa sadar aku selalu menerapkannya, secara otomatis.

Hari ini hujan deras. Aku tidak menemukan orang itu di dekat jembatan. Aku juga tidak melihatnya di luar toko buku favoritku. Apa dia tidak meminta donasi hari ini? Apa dia jatuh sakit?

Dengan benak yang bertanya-tanya, aku memakirkan sepedaku di supermarket langgananku. Aku ingin masak Indomie komplit favoritku, dan supermarket ini menjual cabai rawit dan bok choy. Setelah mengunci sepedaku, aku berjalan, dan kutemukan orang itu di depan supermarket.

"Tolong beli majalah terakhir yang aku punya! Uang dari majalah yang terjual akan disumbangkan untuk orang-orang homeless! Kalau majalah ini terjual, aku bisa pulang!"

Majalah terakhir? Aku ingat, ada beberapa receh yang tersisa (satu dan dua Poundsterling itu bentuknya koin). Kudekati orang itu. Tetapi seorang ibu-ibu berjalan dari samping dan berhenti di depannya, menjulurkan tangannya yang penuh koin. "Kembaliannya tolong didonasikan," lalu mengambil majalah itu dan pergi.

Mungkin esok hari, ketika orang itu memintaku membeli majalahnya di atas jembatan lagi, aku akan turun dari sepeda dan membelinya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar