30 Januari 2015

Kenalkan, Ini Ibuku

Sebelum aku pergi merantau, aku tidak mengira seberapa drastis interaksiku dengan ibu akan berkurang. Cintaku dengan beliau memang berat di internet dan zona waktu, rupanya. Kadang beda sebelas, dua belas, atau tiga belas jam; kadang pula beda lima, enam, atau tujuh jam. Tergantung posisiku di mana, dan sedang musim apa.

Boleh jadi memori ibu terisak sambil melambaikan tangan di luar ruang check-in bandara bisa kuputar berkali-kali, tetapi ada lebih banyak hal hal lain yang selalu kuingat dari beliau. Sesuatu yang hanya kusadari setelah berada jauh dari beliau, yang membuatku berpikir, "Aku ingin menjadi seperti ibu di masa depan."

Ibu adalah seorang kembang desa di kampusnya dulu di Yogyakarta. Karena itulah, bapak bertemu ibu, sebab mereka berbeda fakultas. Setelah ibu dan bapak menikah, ibu bersedia diboyong bapak ke Bandung, kota yang dulu boleh jadi terkesan antah-berantah untuk ibu yang masih berumur 26 tahun.

Ibu adalah wanita yang tangguh dan luar biasa.

Setelah merantau, ibu berhasil tembus seleksi CPNS. Hanya saja, beliau ditempatkan di sebuah SLB (Sekolah Luar Biasa) di Cianjur, jauh sekali dari rumah kecil kami di Cimahi. Harus naik mobil elf dan memakan waktu dua jam, untuk ibu berangkat kerja ke sana. Setiap paginya, sebelum subuh, ibu sudah menunggu di perempatan jalan. Sepagi para pedagang yang berangkat ke pasar. Kemudian, beliau akan pulang sampai rumah saat matahari sudah hilang. Dulu belum ada Tol Cipularang, dan jalan menuju Cianjur berkelok-kelok dan jelek. Untung saja ibu tidak seperti aku, yang gampang mabuk darat.

Setelah bekerja sekian lama di SLB tersebut, ibu memutuskan untuk mengajukan permohonan mutasi. Kondisi kerja seperti itu, tentu saja tidak memungkinkan untuk memiliki seorang anak. Untunglah, beliau mendapatkan tempat sebagai guru bimbingan konseling di sebuah SMK di kota kami.

Awalnya, bagi beliau, pekerjaan ini sangat berbeda dari spesialisasinya sebagai guru untuk SLB. Tak gentar, beliau belajar banyak, ikut pelatihan dan seminar ini-itu, bahkan hingga sekarang.

"Ilmu, kalau tidak di-upgrade terus, tentu saja akan berkarat dan ketinggalan zaman, lalu tergantikan."

Bukan main bangganya, saat ibu berhasil memperoleh sertifikasi guru beberapa tahun lalu. Bagi beliau, sertifikasi ini bukan hanya soal gajinya yang mungkin ditambah, tetapi juga sebuah pengakuan.

Ibu adalah wanita yang kuat. Kuat jauh dari orang-orang yang dicintainya.

Di antara saudara-saudaranya, beliau adalah perantau paling jauh. Karena itu, tiap Lebaran, jika keluarga kami pulang ke Yogyakarta, keluarga besar akan paham kalau kami telat sampai di sana. Maklum, urusan mudik pun kami paling jauh. Macet itu sudah pasti.

Ibu pernah ditinggal bapak dinas ke Jerman dan Austria saat hamil kakakku. Jangan heran, jika nama kakakku adalah Halleina, karena bapakku melihat keindahan kota ini saat di sana. Tidak hanya kali itu, karena bapakku seorang teknisi, beliau sering berpergian dan mendapatkan kesempatan pelatihan/ mengajar di berbagai kota dan tempat di dunia. Pernah juga ibu ditinggal bapak dinas ke Arab Saudi saat aku masih SD, dan karena itu ibu harus mengantar jemput aku dan adikku dengan motor tiap hari. Dulu internet belum ada, dan telepon pun mahal sekali. Hanya surat-surat yang datang tiap tiga bulan sekali yang menjadi jalur komunikasi ibu dan bapak di masa itu.

Kini, ibu harus jauh dari anak-anak yang disayanginya. Kakakku sedang mengejar S2-nya di kota kelahiran beliau, Yogyakarta. Adikku akan segera mengejar mimpinya belajar di Jerman untuk menjadi teknisi andal. Aku sendiri sedang merajut masa depanku di belahan dunia yang berbeda. Kadang aku tak tega saat ibu berkata, "Ibu kangen. Kamu tahun ini kapan pulang?" di sesi video call kami.

Dulu, satu hal yang bisa kulakukan adalah belajar dengan rajin agar ibu bisa tersenyum di hari pembagian raportku, dan tidak merasa kerdil dibandingkan ibu teman-temanku yang berstatus dosen, dokter, atau insinyur. Meskipun ibu selalu terlihat biasa saja dan bilang, "Nilai bagus itu harus, kamu 'kan anak guru," aku tahu beliau bangga sekali terhadapku.

Ada hadiah kecil yang sedang kusiapkan untuk beliau. Tahun depan, aku akan lulus sarjana, dan aku ingin ibu mencicipi negara lainnya di luar Arab Saudi untuk pertama kalinya. Aku ingin ibu datang untuk wisudaku di negeri Paman Sam. Kali ini, aku ingin ibu tidak merasa kerdil dibandingkan ibu teman-temanku yang berasal dari negara maju yang pemikirannya dianggap lebih luas.

Tulisan ini disertakan dalam kegiatan Nulis Bareng Ibu. Tulisan lainnya dapat diakses di website http://nulisbarengibu.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar