26 Januari 2015

Segera: 2016

"Saat ini aku bekerja di Ibu Kota. Rasanya, kuliah kemarin itu seperti main-main saja. Di sini, hidup benar-benar nyata. Mencari uang itu susah, dan aku harus banting tulang."

"Aku ikut les masak dan sebagainya bukan apa-apa, Tan, tetapi akan tiba waktunya aku harus menikah. Sebagai istri, dan ibu yang baik, aku setidaknya harus bisa memasak makanan favorit keluargaku. Aku tak ingin keluargaku mengandalkan pembantu."

"Sekarang, tiap pulang kuliah aku selalu belajar IELTS. Aku ingin mengejar beasiswa LPDP. Supaya bisa mengejar impian terdalamku: sekolah dan jalan-jalan di luar negeri. Doakan ya, Tan."

Padahal dulu kita semua pernah bermain-main tanpa akhir.

Rasanya masih baru kemarin, main-main riang, tapi tiba-tiba kehidupan sudah menghadang di depan. Foto ini diambil oleh Fadhil Zaky W. saat Tur Budaya SMAN 3 Bandung, tahun 2010 di GWK, Bali. Yo, kelas RSBI!

Mungkin waktunya sudah tiba untuk lebih serius memikirkan tentang masa depan. Setelah ini, aku harus ke mana, apa yang harus kulakukan, bagaimana agar aku dapat mendekat dengan targetku, tidak hanya muncul sekali dua kali saat sedang berpikir serius, tetapi hampir tiap kali aku memutuskan untuk melakukan sesuatu.

Saat aku berpikir, "Oke, ini akhir minggu. Saatnya bersenang-senang melepaskan penat!" saat itu juga, hati kecilku mulai berkata, "Kamu masih punya example papers yang belum kamu coba. Minggu depan juga ada wawancara dengan perusahaan X untuk magang di tempat mereka. Apa kamu tak ingin siap-siap?"

Kemudian, aku sadar, oh, aku sudah dewasa, ya, bukan lagi dewasa KTP*.

Aku akan lulus S1, insya Allah, Juni 2016. Saat itu, aku bebas untuk memutuskan ke mana lagi aku akan pergi. Tak akan ada lagi perks yang kudapatkan sebagai mahasiswa (seperti student discount, misalnya, atau kesempatan mencoba-coba -dan mungkin gagal). Tak ada lagi tatapan maklum dari orang sekitar jika aku melakukan hal yang salah, atau menyimpang.

Aku akan lulus dari sekolah formal, dan masuk ke sekolah kehidupan.

Orangtuaku ingin aku berpendidikan lebih tinggi dari mereka, dan aku pun menginginkan hal yang sama. Aku akan rindu dengan kata, "Oh," yang kuucapkan saat mengerti ilmu baru atau mendapatkan ilham anyar. Jadi, cepat atau lambat aku ingin kembali ke bangku sekolah. Mungkin setelah aku lulus, mungkin setelah aku kerja, mungkin setelah aku menikah.

Kebanyakan dari temanku di Indonesia sudah lulus, atau akan lulus tahun ini. Betul sekali, aku 'telat' setahun. Beberapa dari mereka sudah memutuskan ingin melakukan apa setelah lulus, beberapa yang lain berpikir, "Santai saja lah, Tan. 'Jatah' jadi mahasiswa kan ada 6 tahun, ya habiskan saja itu dulu."

Lalu ada juga yang memutuskan untuk melangkah ke jenjang selanjutnya setelah pacaran bertahun-tahun. Ada juga yang mantap ingin menikah setelah lulus meskipun belum punya calon, katanya, "Jika aku sudah memantaskan diri dengan baik, nanti juga akan ada yang datang."

Ada yang sudah menangguhkan diri untuk berada di jalur akademia, karena ikut fast-track lulus lima tahun dengan gelar S1 dan S2. "S3-nya nanti insya Allah ke luar negeri, Tan. Mohon doanya. Kabar-kabari juga ya kalau kampusmu buka pendaftaran, hehe."

Ada pula yang senang cari uang, "Kamu kira aku ambil Teknik Minyak kenapa? Untuk nabung buat anak istri nanti, lah, supaya tercukupi. Makanya, sebelum minyak habis, ditempatkan di lepas pantai pun aku rela."

Atau yang masih idealis, "Walaupun aku diterima di perusahaan X, aku tidak akan ambil. Aku hanya ingin coba-coba prosesnya seperti apa. Perusahaan itu punya Amerika, bukan? Aku tak mau jadi pengkhianat negeri sendiri. Brain drain itu masalah utama di negeri kita. Negeri kita tidak kekurangan orang pintar, sebenarnya, kalau mereka mau kembali ke Indonesia setelah sekolah tinggi-tinggi di luar negeri." Ya, aku yakin orang tersebut menasehatiku secara terselubung.

Beberapa mereka, harus menempuh pendidikan profesi untuk benar-benar siap turun ke dunia kerja. Yang jadi dokter, harus intern dahulu; yang jadi apoteker, harus sekolah setahun lagi.

Jika sekarang teman-temanku tersebar di berbagai kota karena tempat mereka kuliah ada di sana, mungkin setelah ini tempat mereka bekerja atau menetap akan lebih tersebar lagi. Mungkin kita tidak akan bertemu satu sama lain, hingga 10, atau 20 tahun mungkin lagi.

10 atau 20 tahun lagi, aku akan jadi apa, ya?

Apakah aku akan tersenyum lebar karena semua targetku tercapai, bisa hidup baik dan berkecukupan dengan keluargaku, melakukan pekerjaan yang benar-benar aku cintai, serta bermanfaat untuk orang banyak? Semoga.

Aku bisa membayangkannya dengan jelas hari reuni tersebut. Parkir di luar sekolah penuh dengan mobil-mobil (atau mungkin hovercraft, karena jalanan sudah terlalu macet). Guru-guruku yang dulu rambutnya masih hitam legam dengan muka yang cerah, mungkin akan beruban dengan wajah yang keriput di sana-sini. Tetapi, aku yakin, senyum mereka semua akan tetap lebar dan tulus.

Lalu kami menebak-nebak, apakah orang di bangku belakang itu si A, ataukah si B. Lalu kami akan mulai disuguhi realita, bahwa mungkin dulu kami berseragam sama, tetapi nasib dan usaha kami telah membawa kami semua ke tempat yang berbeda.

Ada si C yang dulu sering bolos kelas, tapi kini menjabat pos penting di kabinet pemerintah negeri ini. Ada juga si D yang dulu rajin belajar, dan kini telah menjadi rektor di universitas Y. Mungkin juga ada E yang dulu membayar SPP pun sering menunggak, tetapi kini berhasil menyekolahkan anak-anaknya ke luar negeri. Akan ada pula si F, G, H, dan seterusnya yang nasibnya tak akan bisa diterka.

Akan ada lebih banyak hal menarik yang terjadi, tempat baru yang dijelajahi, dan orang baru yang ditemui, hingga reuni itu tiba. Mungkin aku tak akan tahu seberapa keras hidup ini akan menempaku, hingga temanku menyadarkan diriku saat acara itu. "Dulu kamu begini orangnya, Tan, tetapi kamu sekarang jadi begitu," misalkan.

Hingga saat itu tiba, aku akan mencoba menjaga tali silaturahmi di antara kita. Ingatlah kawan, tidak peduli kamu melangkah ke mana, akan ada teman-temanmu di belakang yang selalu siap menerimamu kembali, jika kehidupan tidak terlalu ramah padamu pada suatu waktu.

Selamat menjadi dewasa yang sebenarnya, untuk kita semua.

*Dewasa KTP: lewat umur 17 tahun, dianggap legal, tapi pola pemikiran masih seperti bocah.

12 komentar:

  1. Aku doakan yang terbaik untukmu. Semoga lancar ya apapun yang menjadi pilihanmu. :)

    BalasHapus
  2. iya semoga makin sukses mbak, aamiin

    BalasHapus
  3. Ini Noor Titan yang dulu anak SMP 1 Cimahi ?

    BalasHapus
  4. tulisan kamu selalu menginspirasi, aku juga telat kuliah 2 tahun, dan tiap kali sampe di titik jenuh, aku baca blog kamu, kamu memang anak muda dengan jiwa muda, bukan mahasiswa dengan spirit renta

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih untuk apresiasinya. Tetap semangat! :)

      Hapus
  5. mba titan yang sudah sebanding sebagai inspirator membuat saya terkagum-kagum dengan inspirasi yang mba bagikan. Mudah-mudahan ini bermanfaat bagi saya dan teman-teman yang lain supaya lebih semangat lagi untuk meraih apa yang di inginkan. terima kasih mba atas inspirasinya.. ku tunggu inspirasi berikutnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih untuk doa dan apresiasinya!

      Hapus