22 Maret 2015

Perkenalkan, Namanya Semi

Namanya Semi. Dia hanya datang sekitar tiga bulan dalam setahun, sisanya dia pergi ke tempat yang lebih menerimanya, nomaden antara utara dan selatan. Di pusat khatulistiwa, dirinya tidak dikehendaki, dan kondisinya tidak memadai baginya untuk tinggal. Lagipula, pusat dikuasai oleh raja dari segala raja: musim panas yang sedang.

Namanya Semi. Saat dia tiba dan bertiup di suatu tempat, ruh-ruh di bunga-bunga kecil yang hanya bisa bersembunyi di dalam tanah saat Dingin datang saja terbangunkan, apalagi di pepohonan yang berani meranggaskan seluruh daun-daunnya.

Katanya, 'Semi sudah tiba. Kalian aman dari Dingin sekarang. Tumbuh dan berkembanglah,' lalu serentak daun-daun kecil berebutan keluar dari tangkai pohon, dan kuncup bunga berdesak-desakkan mengambil tempat hingga waktunya tiba untuk merekah.

Tetapi mereka masih bergerombol dekat-dekat, takut Dingin tiba-tiba muncul lagi, mungkin.

Kali ini, Semi telah tiba di sebuah kota kecil di Inggris bernama Cambridge. Semi memang mulai rajin mengunjungi tempat ini, tetapi Matahari kadang enggan menemaninya. Tanpa Matahari, Semi yang selalu dibantu temannya bernama Angin, sering membuat penghuni kota ini terkecoh kalau mereka masih didatangi Dingin. Semi sebenarnya hanya berniat baik, maksudnya membawa Angin adalah agar Angin membantunya menyebarkan biji-biji kecil pepohonan, atau menempelkan benang sari pada putik.

Kedatangan Matahari memang selalu dihalangi oleh Awan; keduanya adalah penguasa sebuah daerah bernama Langit. Jika Matahari datang dengan perkasa, Awan terpaksa harus menyingkir. Saat itu, Langit akan terlihat biru. Tetapi, Awan selalu berusaha sekuat tenaga agar kehadirannya tidak terhalang. Apalagi di kota Cambridge ini, Awan sepertinya sahabat baik tempat ini.

Setelah bunga-bunga merekah, pepohonan mulai menghijau, Semi perlahan-lahan akan pergi dari tempat ini. Mungkin untuk sementara tidak muncul di mana-mana, berlibur dari pekerjaannya. Lalu, dia akan pergi menuju Selatan, seperti Australia, contohnya, dan melakukan hal yang sama.

Apakah Semi pernah lelah?

Tidak. Dia selalu muncul tiap tahun, tak peduli seberapa kuat Dingin berusaha menguasai suatu tempat dengan berkonspirasi bersama Salju. Semi akan datang dan memberi harapan.

Meskipun begitu, Semi kadang sering disalahkan manusia yang selalu bersin-bersin saat Semi datang. Mereka selalu menyalahkan Semi, meskipun yang salah sebenarnya seberapa rentan tubuh mereka akan partikel-partikel halus yang Angin coba terbangkan ke tempat baru.

Semi juga selalu berusaha menyamakan diri dengan karakteristik kotanya masing-masing. Jika di Washington DC, Semi membuat kota tersebut penuh dengan cherry blossom, tahun ini Semi membawa kejutan spesial ke Eropa. Dia membawa kawan lamanya, Gerhana, yang sudah lama tidak mampir.

Lagi-lagi Awan tidak mau kehadirannya diganggu oleh tiga sahabat lama itu: Semi, Gerhana, dan Matahari. Berjuang kuat, hingga mereka yang tinggal di kota Cambridge tak bisa melihat langsung kehadiran Gerhana.

'Tak apa,' pikir Semi, 'akan tiba lagi saatnya kami bertiga datang bersamaan di tempat ini, walaupun mungkin hal tersebut tidak akan terjadi dalam waktu yang lama.' Gerhana memang teman Semi yang paling pemalu, yang susah diajak keluar dari tempatnya bersembunyi untuk diperkenalkan pada dunia.

Awan berkata, 'Pertemuan kalian kugagalkan di sini. Aku memang yang terkuat.'
Semi memang hanya di sini untuk sesaat, tetapi Semi memberi harapan. Sampai Panas mengetuk pintu dari kota ini, Semi akan tetap tinggal dan membuat nyaman penghuni kota Cambridge. Meskipun kadang Matahari kalah oleh Awan, bahkan Hujan.

Bahkan harapan itu lebih dari cukup bagi mereka.

Sebagai bagian dari kota ini, bolehkah aku mengucapkan selamat datang dengan pelukan hangatangan terbuka, Semi?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar