02 April 2015

Jerapah dan Jelantah

Ada yang terlupa: bahasa pertama. Dengan niat awal membagikan pengalaman lebih pada khalayak yang lebih luas, beberapa bulan terakhir, tulisan dengan tema rupa-rupa selalu kutulis dalam Bahasa Inggris.

Tidakkah kamu lelah? Bukankah banyak kosakata yang tak bisa sepenuhnya diterjemahkan ke bahasa itu? 

Benar, dan tanpa terasa, akhirnya aku terbiasa. Terbiasa tidak mengacuhkan potongan-potongan yang meminta diekspresikan.

Berikut ini karya pendekku dalam bahasa pertama: Jerapah dan Jelantah. Karya sebelumnya, Jika dan Jarak, Jumpa dan Jemari, Jenazah dan Jelaga, Jumat dan Jembatan, serta Jas dan Jenaka, juga bisa dibaca.

Tema kali ini adalah tentang masa kecil. Seperti apakah masa kecilmu? Apa rutinitas yang sering kamu lakukan dulu, tetapi kamu hentikan karena umur, atau merasa sudah tidak sepatutnya untuk dilakukan lagi?

Selamat menikmati.

Jerapah

Eksistensi adalah harga mati, begitu motto geng yang kukenal di SMP. Bahkan, punggawanya berkata, 'Semakin banyak haters, semakin baik. Berarti eksistensi kita diakui oleh masyarakat luas.' Saat itu aku belum tahu, kalau pernyataan itu setengahnya adalah bisikan setan. Tak terpikirkan di otakku kalau banyak haters, tandanya memang ada yang salah dengan diri kita.

'Ada banyak cara meraih eksistensi tersebut,' katanya, 'cara termudah adalah dengan membuat identitas sendiri yang kuat, dan tidak sama dengan orang lainnya.' Belakangan, aku tahu kalau ilmu ini sesungguhnya akar dari konsep branding management.

Karena itulah, aku masih ingat di SMP-ku, ada beberapa jenis geng. Ada yang hanya menerima anggota lelaki, anggota perempuan yang cantik, atau anggota ekskul tertentu.

Gengku sendiri beranggotakan +/- 13 orang. Pasang surutnya tergantung pada siapa yang sedang berantem dengan siapa, atau siapa yang tidak menyisihkan cukup waktu untuk nongkrong di warung setelah pulang sekolah. 

Suatu hari kami memutuskan untuk pergi ke Kebun Binatang. Saat itu kami memang sudah mengira, kalau tak ada hal menarik yang bisa dilihat untuk remaja seumuran kami. Toh, kami tetap pergi ke sana. Untuk apa? Berfoto ria, karena geng lain belum ada yang punya foto di Kebun Binatang di Friendster mereka.

Ada banyak yang kami lihat, seperti jerapah, contohnya. Ada pula harimau, singa, gajah, dan unta, empat atraksi wajib di Kebun Binatang yang menggaet penonton. Memoriku sendiri sudah sedikit kabur. Hanya ingat kalau kami ramai-ramai berangkat dari Cimahi diantar supir keluarga temanku. Satu privilese, yang sampai sekarang kupikir amat mewah.

Berbicara tentang jerapah, aku ingat semua pengunjung Kebun Binatang senang memberikan mereka kacang tanah, atau daun yang dipetik dari sekitar kandangnya. Jangan heran, kalau semak-semak atau pepohonan di sekitar kandang jerapah selalu botak.

Darwin pernah berteori bahwa jerapah dulu lehernya pendek, lalu berevolusi menjadi panjang karena mereka harus mencapai makanan yang berada di pepohonan. Ada juga teori yang mengatakan bahwa sempat ada dua jenis jerapah: berleher panjang dan pendek. Kemudian, jerapah berleher pendek tidak dapat bertahan karena tidak mendapat cukup makanan.

Kalau dipikir-pikir, manusia itu mirip dengan jerapah. Mereka yang bertahan adalah yang memang bisa menjawab tantangan lingkungan. Secara teori, aku sudah mafhum akan hal ini. Lalu, apakah eksistensi adalah salah satu metode menjawab tantangan lingkungan itu?

Jelantah

Kamu tahu makananan gorengan? Aku tak tahu apa istilahnya di daerah lain di Indonesia, tetapi di Bandung dan sekitarnya, gorengan ini adalah nama umum dari gehu (tahu bertepung goreng, dengan isi berbagai sayuran), pisang goreng, bala-bala (bakwan), tempe goreng, ubi goreng, comro (oncom di jero, yaitu oncom di dalam), cireng (aci, atau tepung tapioka digoreng), dan banyak lagi. Intinya, serba digoreng. 

Kebanyakan tukang gorengan baru muncul di perempatan jalan atau kios kecil mereka selepas ashar. Biasanya mereka akan mulai dengan gehu atau pisang, karena dua item itu yang paling laku diburu. Yang menarik, mereka akan memanaskan minyak jelantah yang mereka dapatkan di pasar, beserta plastiknya. Sampai sekarang, aku setengah percaya kalau gorengan di rumah rasanya berbeda karena minyak jelantah ini.

Dulu, selepas pulang TPA, antrian di kios kecil tukang gorengan depan masjid selalu penuh sesak. Aku dan kakakku, dengan uang jajan kami yang terbatas, selalu berbagi. Satu pisang, satu gehu, lalu masing-masing kami bagi dua. Kadang, kami harus menunggu lama karena stok pisang gorengnya habis. 

Kadang ibu suka marah, karena kami jadi sakit batuk pilek kalau kebanyakan makan gorengan. Ujung-ujungnya, kami harus dibawa ke Pak Mantri di dekat daerah Jati. Antreannya selalu panjang, dan karena itu kami selalu menyesal sendiri kalau sakit.

Tetapi, rasanya menarik sekali melihat perkembangan harga gorengan. Dengan inflasi yang tinggi di Indonesia sebagai negara berkembang, tukang gorengan pasti harus memutar otak mereka berkali-kali. Sedikit saja harga dinaikkan, atau sedikit saja ukuran gorengan diperkecil, pembeli akan kabur ke tukang gorengan sebelah.

Dulu aku sempat merasakan gorengan ukuran normal seharga Rp. 150,00. Kalau beli dua, harganya pas Rp. 300,00, patungan dengan kakakku. Kemudian, harganya naik menjadi Rp 200,00, Rp 250,00 dan seterusnya. Terakhir aku pulang ke Indonesia, tukang gorengan sudah enggan menuliskan harga dagangan mereka dengan stiker di gerobak mereka. 'Toh, nanti juga bensin naik lagi, jadi harus ganti harga lagi, Neng,' begitu komentar salah satu dari mereka.

Kini, kalau kamu bertanya, 'Aa, ini berapaan?' mereka akan menjawab, 'Seribu tiga,' atau, 'seribu dua.' 

Kukira bensin naik menyebabkan harga minyak jelantah naik, tetapi bukan itu rupanya. Harga komoditi semacam tahu, pisang, tempe, ubi, semua naik kalau harga bensin naik. 

Karena itu, dulu sempat ada tukang gorengan yang berpikir kalau gorengan mereka dijual seharga Rp 100,00, dengan ukuran yang jauh lebih imut, mereka akan tetap mendapat untung. Sayang sekali, belakangan, hal ini tidak memungkinkan lagi karena harga bahan makanan yang terus merangkak naik.

Atau jangan-jangan, harga minyak jelantah juga sudah naik?

Mungkin karena itu, tukang gorengan favoritku di depan rumah, seberang jalan, yang merupakan langgananku selama 6 tahun terakhir, sudah tidak berjualan lagi saat aku kembali ke Indonesia musim panas tahun kemarin. Bapak itu selalu tahu pesananku: spring roll, pisang goreng yang banyak, bala-bala yang banyak, dan kadang-kadang gehu; plus, cengek (cabai rawit) yang banyak. Kadang bapak itu pun bertanya, 'Kapan pulang? Kapan kembali lagi ke luar?' Selalu menyenangkan mengobrol satu dua patah kata dengan beliau.

Entahlah ke mana beliau pindah berjualan, atau mungkin berhenti berjualan gorengan sama sekali? Apa dengan membeli minyak jelantah di pasar, aku bisa menikmati gorengan seenak milik beliau?

10 komentar:

  1. Halo Kak Titan! salam kenal :) saya sering dan senang sekali membaca blog Kak Titan. Ngomong-ngomong, saya penasaran kenapa karya pendek Kak Titan selalu dimulai dengan huruf J? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal :) Terima kasih sudah membaca!

      Apa ya, alasannya? Mungkin kamu akan tahu nanti :)

      Hapus
  2. Kalo Titan cerita tentang masa-masa SMP kayaknya baru kemarin, padahal orang-orang udah mulai bertoga tahun ini :') duuh... Life.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, rasanya masih jelas di kepala cerita masa SMP. Waktu berlalu dengan cepat sekali, bukan? :)

      Hapus
  3. Ka bukanya jelantah itu minyak yang sudah hitam pekat?

    BalasHapus
  4. hai kak, saya ridho salam kenal, saya mau tanya kapan waktu untuk pertukaran pelajar untuk mahasiswa indonesia? dan berapa lama jangka waktunya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ke Cambridge? Saya kuliah di MIT, dan programnya memang spesifik untuk mahasiswa MIT. Untuk universitas lain, saya kurang tahu.

      Hapus
  5. Postingan ini sangat bermanfaat, memberikan informasi mengenai hal yang belum diketahui. Semoga postingan ini bisa memberikan motivasi untuk selalu ingin tahu.

    BalasHapus