11 Juni 2015

Hatur Nuhun Cambridge!

Program pertukaran mahasiswaku berakhir juga. Dengan begitu, bulan September ini aku harus kembali ke Amerika Serikat, meneruskan kuliahku di MIT. Jika segala sesuatunya lancar, insya Allah aku akan lulus bulan Juni 2016. Sebelum kembali ke Amerika Serikat, aku akan magang di India, lalu pulang ke Indonesia untuk beberapa minggu.

Jadi, bagaimana rasanya setelah setahun (sembilan bulan, satu tahun ajaran) berada di Cambridge?

Seperti punting, mungkin. Terlihat mudah, tetapi sebenarnya tidak.

Aku salut dengan mahasiswa di sini yang mampu bertahan, berjuang keras, hingga mendapatkan gelar mereka. Satu tahun di sini, meskipun rasanya sulit, aku belajar banyak tentang berbagai hal.

Beberapa temanku bertanya, "MIT lebih sulit daripada Cambridge, bukan?" Aku hanya bisa menjawabnya dengan senyum simpul. Memoriku tentang MIT sudah mulai mengabur, mungkin ini memang saatnya untuk kembali. Tetapi, kembali ke topik mana yang lebih sulit, kedua-duanya memang sulit, tetapi berbeda. Mahasiswa Cambridge dilatih untuk bekerja dan belajar dalam sistem Cambridge, sehingga begitu mereka pergi ke MIT, MIT terasa sulit. Begitupun sebaliknya.

Sekarang pertanyaannya, sistem pendidikan mana yang lebih baik?

Entahlah. Aku berdebat panjang dengan temanku soal hal yang satu ini. Sistem ujian di akhir tahun memang melatih mahasiswa untuk retain memory longer, tapi bebannya juga sangat berat. Selain itu, sistem semester memberikan keleluasaan bagi mahasiswa untuk memilih kelas yang ingin mereka ambil.

Mungkin aku harus kembali ke UK suatu saat untuk mencari tahu soal hal ini, bukan? Hehe.

Beberapa hari terakhir, selain mulai mengepak barang-barangku, aku juga pergi ke berbagai tempat dengan temanku. Seperti foto di atas, aku mencoba punting. Hal yang mengagetkan soal punting adalah, dari luar mungkin si punter (yang mendorong perahu) terlihat mudah sekali mengemudikan perahu, tetapi sebenarnya berdiri di atas perahu itu sendiri rasanya menakutkan. Belum lagi kalau sungainya penuh dengan perahu-perahu lain, bisa jadi tabrakan. Kalau sudah begitu, aku harus siap-siap jongkok dan memegangi perahu supaya keseimbanganku tidak hilang saat perahu bergoyang keras. Temanku sempat terjatuh ke sungai saat dia menjadi punter. Karena tabrakan? Bukan. Tetapi karena pole-nya (tongkat untuk mendorong perahu) terjerat di dasar sungai yang berlumpur.

Aku juga pergi ke festival musik dengan temanku, Strawberry Fair.

Penuh dengan orang minum-inum dan merokok.
Lalu pergi makan malam bersama.

Bersama teman-teman college-ku. Betul sekali, jumlah pria di college-ku jauh lebih banyak dari jumlah wanitanya. Foto: Jeremny.
Juga bersama pejabat-pejabat PPI Cambridge. Foto: Olga.
Terima kasih untuk teman-teman yang bersedia meluangkan waktunya untuk makan bersamaku, lalu berandai-andai kalau tahun depan mereka datang ke Boston, atau aku kembali ke Cambridge. Semoga kesempatan itu benar-benar tiba, ya!

Sama seperti UWC dan MIT, tiap kali aku harus pergi saat awal musim panas, aku merasa sedih. Ketika melihat kembali seberapa banyak hal yang telah kupelajari tahun tersebut, teman baru yang sudah kudapatkan, pengalaman yang kurasakan, aku tersenyum. Hanya saja, satu koper 30 kg tidak cukup untuk menampung memori dan perasaan yang kudapatkan setahun terakhir.

 Kalau rumahku tersebar di mana-mana, kapan aku bisa merasa utuh lagi?

Hatur nuhun, Cambridge. I still cannot believe how beautiful and nice you are to me.

3 komentar:

  1. Amazing tan, semoga lulus tepat waktu.. Welcome to USA,,,

    Disaat sudah akrab dan nyaman bersama teman teman... Sedih memang jika dihadapkan dengan kata perpisahan... Ya karena punya kepentingan masing masing... Settidaknya sudah mewarnai satu halaman dalam hidup

    Oh ya selamat menunaikan ibadah puasa , semoga lancar dan berkah

    BalasHapus
  2. Kak Kak! aku mau nanya hehehe
    kok aku mahasiswa teknik mesin juga tapi di Indonesia hehehe
    Kenapa kakak milih jurusan teknik mesin kak? soalnya kalo di sini jumlah mahasiswi di teknik mesin dikit kak wkwkwk
    ada mimpi gitu ngga sih kak yg jadi alasan kakak milih jurusan ini?
    sukses ya kak semoga gaada hambatan buat persiapan menjelang wisudanya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena waktu semester dua ambil Differential Equations dan suka. Banyak contoh aplikasinya di Mechanical Engineering, makanya akhirnya declare jurusan itu. Terima kasih doanya, sama-sama!

      Hapus