27 Juni 2015

Kabar Pertama dari India

Baru kali ini aku merasakan sulitnya mendapatkan koneksi internet yang memadai selain di Indonesia. Tidak hanya karena kesibukanku yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga karena aku bergantung pada wi-fi di tempatku tinggal/ workshop/ lab di sini.

Saat ini aku berada di state Kerala, India, berpindah-pindah di antara berbagai kota. Minggu lalu aku ada di Trivandrum untuk TechTop Workshop, saat ini aku berada di Chirayinkil, mulai hari Senin aku akan pergi ke tempat lainnya untuk field trip.

Pantai Shankumugham, Trivandrum. Samudera Hindia bisa kamu lihat jelas. Dari sini aku bisa renang langsung ke Indonesia.
Sebelum aku lanjutkan, aku mau minta maaf jika beberapa di antara kalian yang sudah mengirimkan surel, belum sempat kubalas, karena keterbatasan internet. Akan kucoba baca dan balas secepatnya, mungkin setelah aku kembali ke Indonesia.

Jadi, saat ini aku berada di India untuk program MIT Make in India. Aku dan sembilan anak MIT lainnya, S1 dan S2, current students dan alumni, dari berbagai jurusan, sama-sama berkolaborasi dengan mahasiswa India untuk menciptakan suatu inovasi yang bisa diaplikasikan ke masyarakat luas, terutama di Kerala.

Terdengar berat, bukan?

Bagiku sendiri, ini adalah momen untuk belajar banyak, tidak hanya dari teman-teman MIT-ku, tetapi juga dari teman-teman India-ku. Banyak dari mereka sudah melakukan banyak hal, dan luar biasa brilian. Kadang aku merasa malu sendiri karena aku belum banyak melakukan apapun, dengan kesempatan yang kumiliki selama ini.

Proses menemukan suatu inovasi itu sendiri sebenarnya cukup rumit. Mencari ide yang terkesan remeh dan membawa efek yang besar itu cukup sulit, dan melalui proses yang panjang, salah satunya adalah identifikasi problem yang melalui proses yang sangat panjang. Berbicara dengan orang banyak, adalah salah satu kuncinya, dan rasanya sulit sekali, terutama karena orang lokal Kerala menggunakan Bahasa Maleyalam.

Kerala, secara umumnya, mirip sekali dengan Indonesia. Cuacanya yang (luar biasa) lembab, dan mencapai 32 derajat Celcius. Karena dekat dengan khatulistiwa, tempat ini benar-benar hijau dan banyak pepohonan. Rasanya mirip sekali dengan tempat Mbahku di Yogyakarta. 

Tiap hari, aku makan kari terus. Bahkan untuk makan pagi! Biasanya, bersama kari, kebutuhan karbohidrat dipenuhi dengan chapatti (mirip tortilla), nasi, atau makanan mirip surabi. Karena itu, rasanya aku kangen sekali dengan makanan segar, seperti buah-buahan atau salad. Seperti di Indonesia, suplai pisang di sini melimpah ruah. Di sini juga banyak pohon nangka, pohon kelapa, dan juga pohon singkong. 

Akhirnya makan kelapa muda juga setelah sekian bulan. Terima kasih Dhruv dan Amareesh untuk kelapa muda gratisnya, hehe.
Kecuali saat workshop kemarin, di Chirayinkil kami tinggal di sebuah rumah. Kamar perempuan di lantai bawah, dan kamar laki-laki di lantai atas. Ada warga lokal yang bersedia untuk memasakkan kami tiap harinya. Kadang, untuk membunuh waktu kami akan berbicara panjang lebar, atau bermain apapun. Sayang, tidak terlalu banuak waktu yang dibunuh. 

Rasanya seperti KKN: di tengah desa, lalu internet yang terbatas. Malam-malam panjang pun kami habiskan dengan bermain carrom.
Saat workshop, aku bersama teman-temanku: Daivon, Lincy, Natasha, dan Jaisal, memutuskan untuk memecahkan masalah tentang pasien yang merasa tidak nyaman di dalam ambulans. Ternyata, tempat tidur ambulans berbeda dari tempat tidur kita yang memiliki spring-piston system.
Prototipe iterasi pertama dari tempat tidur ambulans, karena banyak dari tempat tidur di ambulans yang tidak memiliki sistem untuk menyerap getaran dari jalanan yang berlubang. Kali ini kami, tim Ruff Ryders, mencoba sistem suspensi.
Setelah workshop tiap harinya berakhir, kami kembali ke hostel (istilah orang India untuk asrama), untuk tidur dan beristirahat. Tiap pagi kami naik bus sekolah untuk berangkat ke tempat workshop di Mar Baselios College of Engineering and Technology.
Di dekat hostel, sebelum berangkat ke tempat workshop. Aku mengenakan celana khas India, kembaran dengan teman-temanku.
Bahkan kami berhasil masuk koran lokal! Fotoku pun terpampang dengan jelas, haha.

Berhasil masuk ke koran lokal Trivandrum, setelah sebelumnya berhasil masuk ke TV lokal di Meksiko.
Tempat workshop kami di Mar Baselios College of Engineering and Technology. Ada patung Yesus setinggi empat lantai, karena college ini berbasiskan agama Katolik. Bentuknya mirip dengan patung di Brazil lho.

Patung Yesus yang sangat tinggi di college tempatku workshop minggu lalu. Bisa kamu lihat dengan jelas, ada banyak pohon kelapa!
Semoga saja di akhir periode empat minggu ini, kepercayaan diriku sebagai seorang engineer meningkat lebih jauh, lebih dari kepercayan diriku sebagai seorang blogger, haha.
Kerjaanku akhir-akhir ini: membuat prototipe menggunakan 3D printer.
Selain workshop, pada saat yang bersamaan ada juga kompetisi inovasi untuk anak SMA dan mahasiswa di India. Aku datang ke pamerannya, dan aku bisa melihat berbagai hal menarik. Produk mereka semua benar-benar luar biasa!

Aku mencoba berbagai macam gadget saat TechTop Innovation Competition. Device ini berfungsi untuk membantu orang-orang yang buta agar bisa mendeteksi rintangan di hadapan mereka.
Bagaimana, seru sekali bukan? Kali berikutnya, aku akan mencoba untuk menceritakan lebih spesifik tentang project team-ku, atau hal menarik tentang India secara umumnya.

Sampai jumpa! Semoga Allah memberkahi Ramadhan teman-teman yang Muslim, dan semoga di lain waktu, internetku bisa lebih baik. Aamiin.

2 komentar:

  1. Keren kak titan , btw kenapa MIT bisa sangat loyal ya sama India , coba MIT ke Indonesia ,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kabarnya mereka ingin bikin program MISTI Indonesia. Kita tunggu saja realisasinya, ya!

      Hapus