08 Juli 2015

Inovasi di Negara Berkembang: Mudahkah?

Kali ini saya akan merangkum banyak hal yang saya pelajari selama waktu saya di India, tentang inovasi, dan konsep 'merubah dunia menjadi tempat yang lebih baik'. Mudahkah?

Kalimat macam, "Saya ingin jadi teknisi andal, supaya saya bisa memajukan negeri ini," terdengar terlalu gamblang dan mudah diucapkan belakangan ini. Ada dua hal besar dalam kalimat itu: teknisi andal, dan memajukan negeri. Berhasil menjadi teknisi andal tidak menjamin proses memajukan negeri, begitupun sebaliknya.

Lalu, apa yang diperlukan untuk mengimplementasikan inovasi di negeri berkembang?

Saya, sedikit banyak, belajar sedikit selama tiga minggu terakhir di India.

Satu: melihat sekitar lebih banyak. Foto ini diambil saat field trip ke perajin tradisional kain sari, kain tradisional di India. Kabarnya benang emasnya terbuat dari emas asli.

Sebagai seorang (calon) teknisi, saya lebih sering memfokuskan diri terhadap apa yang bisa saya lakukan, program apa yang bisa saya tulis, model seperti apa yang bisa saya cetak 3D, juga sirkuit seperti apa yang bisa saya bangun. Padahal, sesungguhnya itu bukan tahap pertama dalam mencari solusi dan membangun inovasi.

Tahap pertama sesungguhnya adalah melihat. Apa yang jadi masalah di sekitar kita? Apa hal yang minta dipecahkan? Apa hal yang orang sering menutup sebelah mata mereka?

Tidak semua masalah cukup penting untuk dipecahkan, dan tiap masalah punya sumber daya minimal agar bisa dipecahkan.

Karena itu, kunci pertama adalah mencari masalah sebanyak-banyaknya, agar kita bisa menemukan masalah yang cukup baik untuk kita pecahkan dengan kemampuan kita sendiri. Contohnya, aku merasa bahwa sistem pendidikan di Indonesia tidak terlalu baik, tetapi masalah ini terlalu umum, dan tidak bisa kupecahkan dengan kemampuan yang kumiliki saat ini. Dalam hal ini, penting sekali untuk mengerucutkan masalah menjadi sesuatu yang lebih spesifik dan lebih kecil cakupannya. Lebih penting lagi untuk menemukan suatu masalah di mana kita bisa merasa related dan personal, karena dibutuhkan energi dan motivasi yang cukup untuk memecahkan masalah tersebut. Kita tak ingin memecahkan suatu masalah yang tidak memiliki koneksi dengan kita sama sekali, bukan?

Tahap kedua adalah ideation, atau mencari semua ide untuk memecahkan masalah yang telah kita pilih. Kadang-kadang kita membutuhkan lebih dari satu masalah untuk melalui proses ini, dan melihat ide-ide yang keluar untuk memecahkan hal ini, untuk melihat mana yang paling feasible.

Dalam tahap ini, semua orang harus mencari ide sebanyak-banyaknya. Sewaktu timku melalui proses ini, tiap orang harus menyumbang 10-20 ide untuk memecahkan masalah ini, dalam waktu yang terbatas, sekitar 15-30 menit. Ide gila selalu muncul dari proses ini, dan tidak sedikit dari ide gila ini yang dapat diwujudkan.

Proses ini biasa diulang berkali-kali, hingga semua orang merasa puas dengan ide terpilih yang akan digunakan untuk memecahkan masalah. Kemudian, kita bisa beralih ke tahap berikutnya, rapid prototyping. Mengapa harus rapid (cepat)? Karena kita ingin gagal lebih cepat, sehingga kita tahu apa yang harus kita lakukan berikutnya, dan apa yang harus diperbaiki. Lakukan iterasi sebanyak mungkin.

Satu hal yang perlu diingat dari proses ini, terkadang, sebagai orang eksak dan saklek (kebanyakan teknisi dan saintis seperti ini), kita ingin semua hal berakhir sempurna dalam percobaan pertama. Hal ini tidak mungkin terjadi dalam proses yang kita lalui, karena itu kita harus siap secara mental dan fisik untuk melakukan iterasi sebanyak mungkin, dan berani salah.

Selesai tahap ini, yang kita dapatkan hanyalah final product, dan hal ini belum termasuk berbagai hal lain yang harus dipikirkan, seperti bagaimana memasarkan produk hasil inovasi kita, dan sebagainya.

Lalu, bagaimana inovasi di negara berkembang berbeda dengan inovasi di negara maju? Di negara berkembang, sumber daya yang tersedia bisa jadi benar-benar terbatas. Contohnya saja, di maker lab tempat aku bekerja beberapa minggu terakhir, terletak di desa kecil. Daya listrik yang tersedia tidak sebanding dengan daya yang kami semua butuhkan. Jadi, kapanpun kami membutuhkan 3D printer untuk mencetak prototipe, kami harus mematikan semua daya listrik yang kami miliki: kipas angin, lampu, pendingin ruangan, bahkan laptop-laptop kami. Selain itu, ada pemadaman listrik bergilir setiap harinya, minimal tiga kali sehari. Belum lagi, biaya internet yang sungguh mahal, sehingga kami hanya memiliki kuota internet yang terbatas.

Kondisi seperti ini, mungkin saja sama dengan kondisi di beberapa daerah di Indonesia.

Jadi, mari kita tanyakan kembali, mudahkah menciptakan inovasi di negara berkembang? Jawabannya mungkin tidak, tetapi hal ini tidak bisa menjadi alasan untuk menyerah, bukan? Saya sendiri pun masih belajar dari orang-orang. Semoga saja hingga akhir program ini, saya bisa belajar lebih banyak lagi.

Selain itu, semoga saja nanti saya bisa menelurkan sesuatu yang signifikan nanti.

2 komentar:

  1. edass saya suka bagian ini
    rapid prototyping. Mengapa harus rapid (cepat)? Karena kita ingin gagal lebih cepat, sehingga kita tahu apa yang harus kita lakukan berikutnya, dan apa yang harus diperbaiki. Lakukan iterasi sebanyak mungkin.


    mudah ma ngga tapi 99,999999 persen ma bisa, banyak sekali masalah di indonesia tapi belum ada yang ngegarap (kenapa ngegarap? soalnya solusinya udah ada tapi belum di terapin di indonesia) udah itu di dukung dengan penduduk indonesia yang buannyakkk jadi sangat memungkinkan berinovasi yang di ikuti dengan kesejahteraan :D.

    sekarang aja udah ada starup digital di bidang argiculture dan penerapannya sangat baik di indonesia mulai dari produktifitas sampai efesiensi. IOT juga ada. #sekedarinfo

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju sekali! Banyak hal yang bisa dirubah di Indonesia, dan karena itu, ruang untuk membuat inovasi benar-benar besar. Sayang, untuk urusan sumber daya, masih agak sulit.

      Hapus