14 Agustus 2015

Mahal!

Ketika aku memutuskan pergi ke sebuah minimarket di dekat rumahku, aku terhenyak. Harga cemilan yang dulu tidak terlalu mahal, kini sudah naik drastis. Indomie yang dulu masih berkisar Rp 1.500,00-an, kini sudah di atas Rp 2.000,00. Ke mana saja aku? Apa yang terjadi?

Yang jelas, aku sadar akan salah satu alasan mengapa orang Indonesia jarang minum susu. Dengan GDP yang lebih rendah dari Inggris, dan harga makanan dan kebutuhan sehari-hari yang umumnya lebih rendah dari Inggris, harga 1 liter susunya sama dengan di Inggris. Aku mungkin termasuk orang yang beruntung bisa minum susu setiap hari.

Lalu, mengapa harga-harga mahal sekali? Mengapa kurs USD mahal sekali?


Ada banyak faktor, dan faktor-faktor tersebut bisa kalian baca sendiri di artikel-artikel yang dibagikan orang-orang di media sosial, atau dari kultwit pakar-pakar. Aku biasanya hanya manggut-manggut sambil bersyukur karena mata kuliah Mikroekonomi dan Makroekonomi yang kuambil ada manfaatnya juga.

Bagiku sendiri, USD yang makin mahal menjadi suatu fenomena menarik. Tandanya, jika aku meminta uang ke orangtuaku, mereka harus mengeluarkan lebih banyak rupiah; juga, beasiswa yang kudapat worth more than before. Impas, seharusnya. Tetapi, hidup di Indonesia selama liburan, rasanya makin sulit. Rupiah makin tidak berharga, keluar rumah butuh uang lebih dari biasanya, harga angkot naik, dan harga makanan juga naik.

Mungkin, bagi para eksporter, USD yang makin mahal adalah berkah. Barang-barang yang mereka ekspor ke luar negeri menjadi lebih murah, dan orang-orang pun lebih tertarik membelinya. Karena itu, mungkin mereka mendapat untung lebih.

Lain halnya dengan para importer, termasuk kita yang hobi belanja barang-barang bermerk dari luar. Kini harganya jauh lebih mahal, dan kita tak punya pilihan lain selain mengetatkan ikat pinggang kita. Untuk sekarang, lebih baik berhemat dulu, makan saja makin mahal.

Belum lagi harga daging sapi yang semakin selangit. Tomat yang harganya benar-benar jatuh karena panen raya. Kata ayahku, negeri kita harus belajar untuk menstabilkan harga bahan pokok makanannya, apalagi saat cuaca dan musim makin . Kalau tidak, petani susah sejahtera dan kita terus diombang-ambingkan harga. Orang-orang terlalu cinta dengan bahan pangan yang segar, padahal mereka lebih rentan gejolak pasar. Contohnya, jika tomat bisa kita awetkan saat panen raya seperti ini, dan dijual lagi saat musim paceeklik, tentu saja bisa menstabilkan harga.

Yang jelas, mereka yang mengerti atau tidak mengerti alasan di balik harga-harga yang selangit, sama-sama berharap agar harga-harga membaik, dan kondisi ekonomi meningkat. Pemerintah sudah berupaya, mari kita lihat saja. Semoga reshuffle sana-sini bukan hanya untuk meningkatkan ekspektasi para spekulan, tetapi juga benar membawa perubahan.

Sekali lagi, aku bukan orang ekonomi. Harap maklum dan mengerti, kalau ada kekurangan sana sini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar