12 September 2015

Lingkungan Akademis MIT Tidak Sehat?

Hanya kurang dari seminggu sejak aku kembali ke kampusku di MIT. Setelah satu tahun yang penuh dengan pengalaman baru: pergi dari satu tempat ke tempat lainnya, bertemu orang-orang baru, belajar di tempat yang berbeda, dan berusaha mencari tahu di lingkungan baru, akhirnya aku kembali.

Oh, good ol' Boston.
Seperti biasa, rasanya menyenangkan sekali kembali ke tempat ini dengan perspektif baru yang masih segar. Aku bisa melihat beberapa hal yang dulu sempat luput dari mataku. Aku baru sadar, bahwa ada satu kebiasaan mahasiswa MIT yang cenderung 'berbahaya'. Apakah itu?

Beberapa hari lalu, saat reorientasi mahasiswa yang dulu juga ikut pertukaran ke Cambridge selama setahun, aku berbincang-bincang dengan temanku. Tentang hal yang dirindukan dari Cambridge dan MIT, termasuk hal positif dan negatif dari kedua tempat.

"Suasana akademis di MIT itu berbahaya, kalau kupikir-pikir," ucap temanku.

Aku segera berhenti makan pizza vegetarian yang disediakan sore itu. "Maksudmu apa?"

"Apakah kamu sadar kalau mahasiswa MIT sering sekali komplain?"

Aku pun tertunduk. Benar juga. Di Cambridge, rata-rata mahasiswa memisahkan urusan akademis saat sedang bercengkerama dengan teman-temannya di pub, meja makan, atau formal. Sedangkan di MIT, kapanpun kamu bertemu temanmu, kamu berusaha melepaskan rasa frustrasimu tentang akademik, kehidupan pribadi, hingga jumlah jam tidurmu pada temanmu.

"Kadang aku merasa, aku seolah-olah berkompetisi mengenai jumlah jam tidurku dengan teman-temanku. Siapa yang tidur lebih sedikit, dia yang menang, dia yang belajar lebih keras. Rasanya tidak sehat," lanjut temanku.

Setelah kupikir matang-matang, perkataan temanku ini ada benarnya. Di antara mahasiswa MIT sendiri, ada satu frasa yang terkenal: MIT bubble. Berada di kampus ini, kamu seolah-olah berada di balon raksasa, terisolasi dari dunia luar. Kini aku bisa memaklumi mengapa aku berusaha keluar dari tempat ini setidaknya sekali dalam seminggu. Begitupun temanku. "Lingkungan seperti ini 'beracun', Titan. Karena itu, semester ini aku cross-register di Harvard. Aku harus keluar dari bubble ini," ujar temanku.

Tetapi, apakah lingkungan akademis MIT benar-benar tidak sehat?

Tidak juga. Aku menyadari tiga hari terakhir, setelah kelas dimulai, kalau gaya mengajar sebagian besar professor di MIT benar-benar enak dinikmati. Tidak terlalu terburu-buru, memberi ruang untuk diskusi, dan mementingkan kualitas di atas kuantitas. Interaksi antara professor dan mahasiswa di sini benar-benar dihargai, dan input dari mahasiswa sangat penting untuk keberlangsungan kelas.

Terlepas hal ini, kultur MIT memang sedikit tidak sehat. Aku pun sadar kalau dua tahun lalu, aku sempat berpikir bahwa aku tidak cukup belajar karena aku 'tidur terlalu lama'. Tak ada yang salah dengan hal itu, sungguh.

Mungkin hal seperti ini harus diubah. Tetapi tak semuanya sadar akan hal ini. Aku pun tak sadar dengan hal ini hingga aku keluar dari tempat ini untuk sekian waktu. Yang jelas, mulai saat ini aku akan lebih sadar kalau tak semua yang orang lain keluhkan perlu aku tanggapi secara serius. Tanggapi seperlunya, dan buat mereka merasa lebih baik sedikit, tetapi jangan buat diriku terpengaruh oleh komplain-komplain tersebut. People work differently.

It has been a long time, MIT. It's good to be back. Finally, it's my final year! Bismillahirrahmanirrahim.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar