15 Januari 2016

Concern: Menjadikannya Hal Produktif

Reading time: 3-4 minutes
Language: Bahasa Indonesia

Angkat tanganmu kalau kamu pernah merasa gelisah atau khawatir akan sesuatu. Setiap hari kita pasti mengalaminya, bukan? Bahkan kadang, pikiran dan aktivitas jadi terganggu karena satu hal kecil itu.

Musim dingin kali ini aku mengambil kelas, Cross-cultural Collaboration, dengan mahasiswa pertukaran dari Singapura (SUTD - Singapore University of Technology and Design). Singkatnya, mata kuliah satu ini mengajarkan bagaimana bekerjasama di dalam tim yang terdiri dari berbagai kultur. Pernah mengalami hal seperti itu sebelumnya? Aku yakin kalian semua pernah mengalaminya, apalagi di universitas, di mana setiap orang datang dari tempat yang berbeda.

Ada satu topik yang menarik dari kelas ini. Bagiku, topik satu ini pasti sangat berguna untukku baik sekarang ataupun di masa depan: cara menghadapi concern (terjemahan bebas: kekhawatiran?).

Ayo belajar menjadikan kekhawatiranmu lebih produktif!

Instruktur dari kelas ini, Jane, mengatakan bahwa berdasarkan pengalamannya, jika kita berlatih cukup sering untung menggunakan template pertanyaan-pertanyaan ini, hidup kita akan sangat terbantu. Dibandingkan misuh-misuh tidak jelas, mengeluh ke sana-sini, mungkin metode satu ini bisa dicoba untuk mencari solusi.

Proses intinya adalah terus menerus bertanya. Aku akan menggunakan pengalamanku sendiri sebagai contoh.

Satu: Sebutkan hal yang menggelisahkan dirimu


A: Apa hal yang menggelisahkan bagimu sekarang?
T: Bagiku, satu hal yang menggelisahkan adalah tentang banyaknya kasus bunuh diri di kampus, dan tingginya jumlah orang yang memiliki depresi. 

Dua: Mengapa hal ini menggelisahkan?


Tanyakan hal yang satu ini berkali-kali, hingga kamu mencapai inti/ values yang kamu pegang. Jika kamu melakukan langkah ini dalam Bahasa Inggris, gunakan how.. atau what about..., bukan why. Why memiliki kesan menghakimi, atau judgmental, dan cenderung membuat orang lebih defensif.

A: Mengapa hal ini menggelisahkan?
T: Rasanya sedih, melihat orang-orang yang hebat dan brilian harus meninggal di usia muda dengan cara yang tidak seharusnya mereka lakukan.
A: Mengapa kamu merasa sedih terhadap orang-orang seperti mereka?
T: Dunia kehilangan. Tidak hanya canda tawa mereka, tetapi juga karya-karya mereka. Lagipula aku takut hal seperti ini terjadi dengan orang-orang terdekatku. Aku sayang mereka semua.

Setelah beberapa pertanyaan, akhirnya aku mengungkapkan inti/ value dari masalah ini: rasa sayang dengan orang-orang terdekatku.

Tiga: Bagaimana hal ini mempengaruhimu?


A: Apakah pengaruh dari insiden ini terhadap dirimu?
T: Kadang aku merasa sangat sedih. Kadang juga aku berpikir, apa yang harus kulakukan jika ada di posisi mereka, atau orang terdekat mereka.

Empat: Jika kamu bisa memilih, sebaiknya apa yang mereka (kamu) lakukan?


A: Seperti apakah keadaan yang kamu inginkan?
T: Aku ingin semua orang menemukan solusi, tanpa harus mengakhiri hidup mereka masing-masing. Aku ingin mereka tahu kalau ada orang-orang yang peduli dengan keadaan mereka, dan bersedia untuk mendukung mereka hingga akhir, meskipun mereka gagal.

Lima: Bagaimana cara merealisasikannya?


A: Apa yang akan kamu lakukan agar hal tersebut tercapai?
T: Aku akan mulai dari diriku sendiri dan orang-orang di sekitarku. Aku akan menjadi lebih peduli terhadap mereka. Mengajak mereka melepas penat, bermain, jalan-jalan sejenak.

Enam: Setelah direalisasikan, bagaimana kira-kira perasaanmu nanti?


A: Seperti apa perasaanmu setelah kamu merealisasikannya nanti?
T: Mungkin aku akan merasa lebih baik, dan semoga kejadian menyedihkan seperti itu tidak terulang kembali.

Bagaimana menurutmu? Menarik, bukan? Aku mencobanya beberapa hari terakhir, dan ternyata hal ini benar-benar efektif untuk mengalihkan kekesalan menjadi energi untuk merubah sesuatu. Bagaimana pertanyaan-pertanyaan ini bekerja?

Emosi seseorang dipengaruhi keadaan hatinya.

Jika keadaan lingkungan atau diri kita sesuai dengan values atau norma yang kita anggap benar, kita tidak akan merasa gelisah, tetapi merasa tidak terganggu. Lain halnya, jika kita menghadapi sesuatu yang tidak sesuai dengan values kita. Tentu saja hal itu secara tidak langsung mempengaruhi diri kita dan membuat mood kita terganggu, bahkan merasa gelisah.

Jika kita merasa gelisah (atau tidak puas dengan keadaan sekitar kita), hal tersebut akan terpancar dan mengganggu kita.

Karena itu, keselarasan antara values kita dengan keadaan sekitar kita menjadi sangat penting. Tetapi kadang kita memiliki missing connection antara hubungan kausal sebab-akibat dari values dan keadaan kita. Untuk itulah pertanyaan-pertanyaan ini digunakan.

Setelah menemukan apa yang menggelisahkan kita, kita harus mengulang pertanyaan 'mengapa' berkali-kali.

Semua pertanyaan beruntun ini bisa mengantarkan kita pada inti masalah yang kita punya. Jangan takut menjadi seperti anak kecil yang terus-menerus menanyakan 'mengapa'!

Setelah mencari hubungan kausal sebanyak-banyaknya, kita menemukan nilai-nilai yang kita anut.

Setelah kita menemukan values, atau hal-hal yang kita anggap mendasar untuk kehidupan kita, kita bisa mengubah persepsi. Pertanyaan, "Apa hal yang sebenarnya kamu inginkan?" adalah awal dari proses tersebut. Dimulai dari keadaan ideal, kita bisa mencari hal apa saja yang mungkin kita bisa lakukan untuk mengubah kegelisahan kita itu menjadi hal yang lebih ideal.

Mungkin agak susah dilakukan pada awalnya, tetapi aku yakin hal ini akan jadi sangat bermanfaat. Kalian bisa mencobanya dengan teman dekat kalian dulu, sebelum mencobanya pada diri sendiri. Karena kadang, kita kurang persisten untuk menanyakan 'mengapa' terhadap diri sendiri, karena mudah terdistraksi atau terbawa emosi.

Selamat mencoba, dan semoga bermanfaat! Kabari hasilnya, ya (dan juga komentar untuk ilustrasi amatirku di atas).

4 komentar:

  1. Sambil baca ini aku langsung coba ngotret di buku dan ya it works. Nuhun ilmunya. :)

    BalasHapus
  2. postingan yang bermanfaat. akan aku coba terapkan mbak,sebagai seorang ibu dan working mom hal ini mungkin bisa membantu untuk semua kekhawatiran dikepalaku. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, berkabar ya, bagaimana hasilnya :)

      Hapus