22 Januari 2016

Reply 1988: Kehangatan Keluarga

Reading time: 4-5 minutes
Language: Bahasa Indonesia

Bagi mereka yang mengenalku dekat, mungkin tahu persis seberapa sering aku menonton drama Korea. Jika beberapa orang lebih senang menonton TV Shows dari Amerika, aku lebih senang menonton drama dari negeri ginseng. Mungkin salah satu faktornya adalah karena aku cenderung feelings-oriented, karakter tipikal dari drama Korea.

Salah satu drama yang masuk ke dalam Hall of Fame drama Korea versi Titan baru-baru ini adalah Reply 1988. Ada banyak detail yang membuat perasaanku hangat. Kurang lebih sama dengan perasaan orang banyak begitu mendengar kisah Hachiko, si anjing yang setia terhadap tuannya.

Apa sih yang spesial dari Reply 1988? (Mungkin aku sedang berada dalam fase denial karena dramanya akhirnya tamat)

Mungkin karena pemeran utamanya terasa begitu dekat dengan kita.

Entah mengapa beberapa hal di Korea Selatan tahun 1988 terlihat begitu mirip dengan Indonesia.

Beberapa kali, dispenser beras seperti ini muncul di adegan-adegannya. Sumber foto.
Aku yakin, meskipun mungkin tidak semua rumah memiliki dispenser beras seperti itu, kalian pernah melihatnya. Belum pernah? Mungkin aku sudah terlalu tua, haha. Selain itu, kompornya masih khas: LPG.

Kompornya kompor gas seperti ini. Sumber foto.
Gas LPG yang 5 kg. Yang lebih kecil mungkin juga ada. Sumber foto.
Selain itu, ada tradisi yang menarik yang ditonjolkan di drama tersebut: kekeluargaan dengan tetangga. Entahlah jika orang-orang masih melakukannya sekarang apa tidak, tetapi saat aku kecil dulu, keluargaku mengenal tetangga di sekitar kami cukup baik.

Tiap pulang mudik, nenek kakekku biasanya membawakan kami hasil panen: mulai dari beras, pisang, hingga kelapa, atau hal lainnya seperti emping, kerupuk udang, dan bakpia. Kadang terlalu berlebih, hingga akhirnya kami memutuskan untuk membaginya dengan tetangga sekitar. Begitupun tetangga kami. Hanya saja, aku kadang agak malas jika matahari terik di luar dan aku harus ke rumah tetangga mengantarkan oleh-oleh seperti itu, haha.

Selain oleh-oleh dari kampung, kami juga kadang masak berlebih untuk arisan, atau acara lainnya. Akhirnya pasti aku dan adik kakakku lagi yang harus mengantarkan makanan-makanan tersebut ke tetangga sebelah. Begitupun sebaliknya, kadang tetangga kami datang ke rumah mengantarkan boks makanan dari akikahan atau sunatan anaknya, atau kadang kala oleh-oleh dari kampung mereka. Maklum, daerah tempat tinggalku kebanyakan diisi pendatang, dan keluarga besar kami semua ada di luar kota. Karena hal itu pula, kami jadi bergantung dengan satu sama lain.

Di Reply 1988, ceritanya berpusat pada 5 keluarga yang tinggal berdekatan, dengan dinamika mereka masing-masing. Banyak dari adegan-adegan di drama ini dimulai dengan anak dari satu keluarga yang disuruh orangtuanya untuk mengantarkan oleh-oleh ke tetangganya, haha. Karena itu, bagiku, adegan ini benar-benar membuatku bernostalgia.

Pemeran utamanya sendiri, Dukseon, yang diperankan oleh Hyeri, memiliki karakter sendiri sebagai anak tengah. Kadang kali dia harus mengalah untuk kedua kakak adiknya (haha, persis sekali), tetapi dia sangat disayang oleh keluarganya. Meskipun karakterku mungkin tidak semanis Dukseon, dilema yang dia hadapi sebagai anak tengah, sering juga kuhadapi.


Untung ulang tahunku tidak berdekatan dengan adik atau kakakku, kalau tidak, mungkin apa yang terjadi pada Dukseon juga akan terjadi padaku. Haha.

Hal lain yang menarik adalah bagaimana kue ulang tahun berlilin menjadi tanda kemapanan satu keluarga (mungkin) di Korea Selatan saat itu. Aku jadi ingat sewaktu aku kecil dulu, aku sempat ngambek dengan orangtuaku. Pasalnya, setiap ulang tahun, ibuku hanya memanggangkanku kue bolu standard yang tidak dihias dengan krim apapun. Lilinnya pun lilin putih biasa yang beli di warung. Tahu, kan? Aku lupa mulai umur berapa, aku mulai berontak. Minta dibelikan kue ulang tahun yang bagus yang banyak krimnya, minimal black forest. Tahun itu, akhirnya aku mendapat kue dari toko. Meskipun luarnya cantik, ternyata kuenya biasa saja. Krimnya pun terasa berminyak dan tidak seenak yang kubayangkan. Menghabiskan satu kue besar pun rasanya susah sekali kalau tidak enak. Terpaksa kue itu ditaruh di lemari pendingin berhari-hari, dan tiap harinya, kuenya makin terasa aneh.

Inti dari cerita soal kue ulang tahun adalah, kadang kita kurang bersyukur. Klise, bukan? Hehe. Satu hal yang istilahnya, taken for granted, ternyata mungkin opsi terbaik di luar sana. Ketika kita kehilangannya, mungkin baru terasa kalau opsi yang 'membosankan' itu sebenarnya adalah yang terbaik.

Sekarang diberi kado bukan jadi prioritas lagi. Kesempatan untuk merayakan ulang tahun bersama keluarga saja sudah langka (lebih tepatnya, tidak ada). Ulang tahun saya yang jatuh pada musim dingin mengharuskan saya berada di kampus.

Tetapi terlepas dari hal-hal yang mungkin bersifat 'materiil' seperti itu, keluarga tetap ada untuk menyemangati. Mungkin ada beberapa hal yang kita rindukan dari masa lalu, tetapi tetap saja keluarga selalu ada di sana.

Seperti kata Dukseon di Reply 1988, "Good bye my youth," bukan mengucapkan selamat tinggal pada orang-orang penting di masa lalunya, karena mereka masih ada di sana.

2 komentar:

  1. wooo, aku belum nonton reply 1988 :D Tapi ngerasain perasaan kayak gitu juga waktu abis nonton reply 1997. Nostalgia banget.. tahun segituan aku 4 tahun dan emang ngerasa kayak gitu di sekitar rumah. hahaha beda banget sama sekarang :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga suka Reply 1997. Nonton 1988 deh, seru banget, mirip Indonesia, hahaha.

      Hapus