28 Maret 2016

Lebih Rasional Berekonomi

Reading time: 2-3 minutes
Language: Bahasa Indonesia

Beberapa waktu lalu, aku mendapat rekomendasi buku dari temannya temanku. Buku ini menyentil, dan membuatku berkata, "Oh, ternyata manusia itu tidak selalu berpikir 'rasional'." Buku ini juga menjawab pertanyaan tentang sikap-sikap manusia yang kadang tak masuk akal. Buku yang ditulis oleh Professor Ekonomi di MIT ini, tergolong ringan, dan harus kamu baca jika ingin menyadari sikapmu sendiri saat berekonomi (kata singkat dari "memutuskan melakukan sesuatu, given all the possibilities").

Judul bukunya, Predictably Irrational by Dan Ariely. Kali ini, aku hanya akan memberikan ringkasan singkatnya. Semoga kalian semua lebih tergelitik untuk membaca bukunya sendiri, hehe.

Sering kali, asumsi ekonomi yang orang-orang lakukan adalah, "Manusia berpikir rasional." Tetapi, ternyata ada banyak caveats dari asumsi ini, dan kadang membuat kita berpikir irasional dalam memutuskan suatu hal. Perilaku ini diamati oleh Dan Ariely, selaku behavioral economist. Berikut ini garis-garis besar dari caveats yang Ariely berikan di bukunya.


Manusia selalu mencari anchor dalam memutuskan segala sesuatu. Ariely mengatakan, bahwa ketika manusia tidak tahu 'harga' dari keputusan yang akan dia ambil, maka dia akan mencari anchor, atau dasar untuk memutuskan harga. Sayangnya, hal ini kadang tidak selalu rasional.

Karena itu, Ariely menyarankan, jika kita ingin memenangkan hati seseorang di kencan pertama, ada baiknya kita membawa teman kita yang mirip, tetapi kurang menarik dibandingkan kita. Sehingga mereka mempunyai anchor untuk memutuskan ketertarikan mereka pada kita.

Selain itu, manusia juga selalu tergiur dengan kata "gratis", tak peduli apapun bentuknya. Siapa yang di sini rela mengantre berjam-jam demi es krim gratis (meskipun kita bisa dengan mudahnya membeli es krim dengan harga murah)? Atau, siapa yang sering antre panjang demi "beli satu gratis satu" saat musim lebaran, agustusan, atau akhir tahun? Atau, kalau kamu ditawari kupon gratis Rp 100.000,00 versus kupon Rp 200.000,00 yang dijual seharga Rp 50.000,00, mana yang akan kamu pilih? Bukankah opsi kedua yang lebih rasional?

Ada juga perdebatan antara norma versus ranah pasar. Contoh sederhana, ketika teman kita berniat baik menraktir kita, jangan sampai kita terlampau memaksanya untuk menerima uang dari kita karena alasan 'tidak enak'. Atau, ketika kita lembur, cara perusahaan menghargai usaha kita lebih baik dengan memberikan 'liburan gratis ke Bali', dibandingkan dengan uang tunai sebesar 2 juta rupiah.

Kemudian, kebanyakan manusia juga rasionalitasnya berkurang ketika mereka sedang bergairah (dalam hal seksual). Mengapa tingkat kehamilan pranikah masih tinggi meskipun kampanye menggunakan kondom sudah berlangsung internsif sekian lama? Karena ketika manusia sedang bergairah, otak kita tidak bisa diajak berpikir jernih.

Manusia juga memiliki masalah dengan procrastination alias, hobi menunda-nunda. Siapa yang sering menunda-nunda mengerjakan tugas? Kabar baik, selama kita memiliki tekanan dari luar (dan sedikit hukuman) kita bisa membuat diri kita memiliki self-control yang lebih baik.

Kebanyakan manusia juga tidak mengerti tentang cara memilih sesuatu. Sering kali manusia takut menutup pintu kesempatan, meskipun karena hal itu, manusia menyia-nyiakan hal lainnya (atau tidak efektif dalam melakukan hal lain). Sering kali, pilihan-pilihan itu memiliki outcome yang tidak jauh berbeda, tetapi kita menghabiskan waktu terlalu banyak untuk memilih, yang berujung pada kehilangan.

Kadang juga manusia berekspektasi. Pernahkah kamu mendengar cerita tentang seseorang yang bisa menjadi sehat karena minum obat placebo, yang sebenarnya tidak ada obatnya sama sekali? Kadang diri kita punya kekuatan yang luar biasa, asalkan kita percaya dan berekspektasi terhadap hal tersebut.

Terakhir, manusia punya kecenderungan untuk mencuri sesuatu yang tidak berbentuk uang, karena hal tersebut bertentangan dengan norma kita. Siapa yang kadang mengambil pulpen dari kantor untuk keperluan pribadi? Bayangkan jika ada uang tergeletak di meja, dan pulpen tergeletak di meja, mana yang membuatmu merasa tidak bersalah ketika mengambilnya? Mengambil uang, tentunya membuat kita merasa seperti pencuri. Sedangkan, kadang kita tidak peduli ketika menggunakan fasilitas kantor untuk keperluan pribadi.

Sekian. Semoga ringkasan singkat ini membuat kalian berpikir untuk membaca buku ini. Karena aku percaya, sedikit pengetahuan tentang ekonomi bisa membuat orang-orang lebih mengerti tentang perilaku mereka masing-masing dan kebijakan pemerintah atau pihak eksternal lainnya.

4 komentar:

  1. Menarik. Aku jadi ingin membacanya. Aku punya buku yang sejenis, 'Freakonomics' karya Steven Levitt, yang juga seorang behavioral economist. If you like this subject, I definitely recommend this one.

    BalasHapus
  2. waduh it's awesome :"( akhir2 ini saya sedang gila shopping and i hate myself for that :D totally gonna read this book!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama saya juga, haha. You totally should :)

      Hapus