06 Maret 2016

Pentingkah Magang*?

Reading time: 3-4 minutes
Language: Bahasa Indonesia

*Magang: Tak harus di perusahaan besar, bantu proyek dosen atau volunteer di NGO juga bisa.

Musim bergulir, semester berlalu, tak terasa libur semester akan segera tiba. Untuk teman-teman yang sedang berkuliah, mungkin sudah merencanakan untuk liburan berasama keluarga atau teman-teman. Tetapi, benarkah kita perlu tiga bulan penuh untuk liburan?

Beberapa temanku di sini sudah kasak-kusuk mencari tempat magang sejak kembali ke kampus bulan September. Istilahnya, musim panas belum juga usai, tetapi mengapa harus sudah mulai mencari magang untuk musim depan?

Di berapa kurikulum kampus di Indonesia, magang/ kerja praktik diganjar beberapa SKS dan dilaksanakan selepas tingkat dua atau tingkat tiga. Di samping memenuhi syarat kelulusan, haruskah tiap liburan kita tetap magang?

Melihat teman-temanku di sini, jawabannya cukup jelas: ya. Ya, tiap liburan ada baiknya diusahakan untuk magang.


Selepas tingkat satu, aku kembali dan berlibur di Indonesia selama tiga bulan penuh. Tidak ada kata 'belajar', 'kuliah', atau 'bekerja'. Setelah dua musim panas sebelumnya disibukkan dengan proses aplikasi ke universitas, Extended Essay, dan juga setahun berikutnya, dengan persiapan ke MIT (I just remembered the Freshman Essay Evaluation, dan juga beberapa online trainings), akhirnya musim panas kali itu aku benar-benar berlibur.

Ada rasa sedikit menyesal begitu aku kembali dari Indonesia, dan teman-temanku bercerita tentang tempat mereka magang. Baik itu di kampus mengerjakan riset, atau ke perusahaan-perusahaan dunia di Silicon Valley. Penyesalan itu bukan hanya berakar dari ketidakmampuan menjawab pertanyaan, "What did you do over the summer?" yang selalu berakhir dengan jawaban, "I was home the whole time," tetapi karena hal lain. Pengalaman yang didapatkan teman saya benar-benar menarik, mentor yang membimbing mereka pun punya pengalaman yang luar biasa, dan tinggal di tempat baru (atau di MIT selama musim panas) membuatku ingin mencobanya sendiri.

Karena itu aku memustukan untuk mencari tempat magang untuk musim panas tingkat dua. Beruntung, aku bisa mendapat tempat untuk menjadi asisten riset di Jerman. Ada banyak sekali hal yang kupelajari, mulai dari yang jelas: belajar Bahasa Jerman, belajar mencari informasi dari berbagai sumber, hingga belajar mencari WG (kos-kosan) sendiri, termasuk proses tawar menawar dengan yang punya WG dalam bahasa Jerman-Inggris! Selain itu, selama di Jerman pun aku ke banyak tempat, dan belajar kultur dari negara yang berbeda.

Kemudian, untuk tahun ketiga, aku memutuskan pergi ke India untuk ikut serta dalam summer project. Baru kali itu aku merasakan pergi ke negara berkembang selain Indonesia dan Meksiko. India punya banyak kemiripan dengan Indonesia, dan rasanya agak familiar dengan rumah. Di India, aku belajar tentang tantangan membawa inovasi ke negara berkembang, seperti cara menerangkan konsep teknik secara sederhana, berkomunikasi dengan orang lokal (yang kemungkinan besar tidak bisa berbahasa Inggris), atau adaptasi dan koneksi internet (dan listrik) yang sulit di awal.

Apakah harus magang ke luar negeri untuk mendapatkan ilmu dalam menghadapi kultur yang berbeda? Tidak juga. Banyak perusahaan dan NGO di Indonesia yang memiliki pegawai dari seluruh Indonesia, belum lagi stratifikasi yang mungkin begitu terasa. Kultur perusahaan-perusahaan ini tentu saja jauh berbeda dari kultur kampus yang biasa kita hadapi. Mau di perusahaan sekecil apapun, pasti ada sesuatu yang dipelajari dari teman-teman yang kita temui di sana, atasan atau supervisor kita, dan tentu saja, dari topik yang kita kerjakan selama periode magang.

Bahkan, aku sudah mendengar dari beberapa temanku, yang pernah magang di Google selama dua musim panas berturut-turut, akhirnya mendapat pekerjaan tetap di sana begitu lulus. Koneksi yang kita dapatkan mungkin dapat membantu kita di masa depan, siapa yang tahu.

Selain itu, magang adalah kesempatan mencoba hal baru. Jika kita beruntung, kita bisa menemukan pekerjaan spesifik yang menarik untuk dikerjakan setelah lulus, atau jika kurang beruntung, mungkin ada satu opsi pekerjaan yang kita coret dari daftar panjang posisi pekerjaan yang ingin kita lakukan di masa depan. Trial and error.

Kadang aku merasa bahwa aku kalah start dengan teman-temanku yang sudah magang dari mereka SMA, dan mereka sudah bisa mulai memetik hasil dari magang tersebut, contohnya: mempunyai supervisor yang cukup dekat untuk menuliskan surat rekomendasi, dibayar professional waktu magang, atau mulai membangun karir dan koneksi yang lebih luas. Tak ada kata terlambat, dan magang tak perlu menunggu hingga tingkat tiga nanti saat diwajibkan. Sekadar info, di kampusku, magang bukan syarat kelulusan, tetapi orang-orang berlomba-lomba melakukannya karena menyadari manfaat yang mereka dapatkan.

Jika bingung mulai dari mana untuk mencari tempat magang, mungkin kantor karir di kampus bisa membantu, atau rajin-rajin datang ke pameran kerja. Jangan lupa, mulai tulis resume atau CV sendiri, dan jangan tunggu hingga nanti. Cari juga dosen yang mungkin bisa membantu prosesnya, dimulai dari dosen wali sendiri. Jangan malu bertanya pada orang-orang yang sudah pernah magang di tempat yang kita inginkan, dan tanya proses mereka secara langsung, atau minta dibimbing. Jika kepepet dan tidak bisa dapat tempat magang sesuai harapan karena kualifikasi diri yang belum mumpuni, mungkin saatnya mengambil beberapa langkah ke belakang dan mencari tempat magang yang bisa menerima kualifikasi kita.

Mungkin proses ini harus kita lakukan berkali-kali, tetapi jangan bosan. Ada hasil yang manis di akhir, semoga. Hal ini pun tentu saja mempersiapkan diri kita menyeburkan diri ke dunia mencari kerja selepas lulus nanti. Temanku sampai harus mendaftar ke belasan perusahaan. Karena itu, tak ada salahnya kita memulai proses itu lebih awal.

Pertumbuhan lapangan kerja tidak sebanding dengan pertumbuhan angkatan kerja tiap tahunnya. Kompetisi makin sulit, dan tanpa memiliki hal yang bisa kita jual, kita bisa tergerus arus dan mendapat pekerjaan yang mana kemampuan kita sebenarnya mungkin overqualified. Hmm, sebenarnya kalau kita menyukainya, tak ada salahnya juga.

Best of luck, selamat datang ke preview dari dunia kerja.

2 komentar:

  1. Salam kenal kak, saya Vla, mau bertanya tentang akses MIT network apakah harus pakai certificate dari MIT untuk bisa akses di MIT seperti: Karberos, Athena, Moira? Terima kasih kak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada WiFi MIT Guest, tapi yang koneksi securenya via certificate semua. Termasuk untuk dapat Kerberos.

      Hapus